DIY Soccer BoxΒ 

Ghozi was making a #DIY toy so he could play soccer with fingers :D. The field was made from used shoe box. With the help of bamboo sticks and clothespins, let’s score a goal!

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Let’s Be Friend!

Belajar supel dari Ghozi. Terlahir dari ibu yang dominan introvert, Ghozi malah tumbuh jadi anak yang extrovert, pinter cari teman, tabarakallah. Kurang dari 5 menit, dari yang awalnya ehm2, senyumin, lambai tangan ngajak main, hide n seek, hingga membagi amunisi snacks nya.

They’re friends already!

This slideshow requires JavaScript.

Little Scientists in English Class

This slideshow requires JavaScript.

Kelas Young Learners (9-11 tahun)

Yang pernah atau sedang mengajar anak-anak usia SD, pasti mengerti ‘tantangan’ yang dihadapi. Salah satunya, mereka cepat sekali merasa bosan. Maka dalam sekali tatap muka, bisa ada beberapa variasi kegiatan. Dan untuk semua itu, sang guru banyak menghabiskan waktu untuk mempersiapkan aktivitas. Apalagi untuk pelajaran yang di sekolah pun tidak mereka dapatkan, jadi guru les harus puter otak, hehe.

Suatu ketika Cikgu bertanya tentang pelajaran favorit mereka. ”Do you like Science subject?” Hampir semuanya menggeleng, bahkan ada yang bilang, ‘it sucks’. ”Mau gak belajar Science yang asyik? Sambil eksperimen, sambil belajar kosakata B.Ing nya. Ahirnya kami sepakat untuk melakukan science eksperimen di ahir sesi kelas Sabtu. Sedangkan untuk kelas Selasa, akan ada drama class. Intinya variasi. Juga routine.

Sabtu lalu mereka belajar tentang cara kerja Volcano. Indikator belajarnya mereka bisa menyebutkan bahan dan alat yang diperlukan dalam Bahasa Inggris. Memahami ‘instructions’ pada lembar kerja. Dan yang paling penting, faham bagaimana reaksi yang ditimbulkan jika beberapa bahan dicampur. Acid, base, foam, carbondioxide, etc…

πŸ™‚

 

Sementara itu…

penampakan bocah2 kecil yang ikutan eksperimen

Hujan yang tak Dirindukan

Sebuah antena’ anti hujan nancep dengan pedenya di pekarangan salah satu tetangga yang akan menggelar syukuran kelahiran bayi. Merahnya cabe begitu mencolok, ditambah bawang merah putih tertancap tak berdaya demi memenuhi keinginan tuan rumah yang tak ingin hujan turun.

Semua orang sudah mengerti. Praktek klenik ini juga sudah berlangsung sejak zaman jahiliyah. Konon orang Arab Jahiliyah percaya kepada sesuatu yang dinamakan “Nau” yang dapat menurunkan hujan bukan Tuhan. Nau adalah bentuk ramalan benda-benda langit yang diyakini dapat menurunkan hujan. .
Di sini kita mengenal manusia pawang hujan, yang mengaku bisa mengusir hujan, memindahkannya, atau minimal menahannya agar tak tumpah. Katanya semakin kuat tenaga dalam (bioenergi) yang dimiliki pawang, memungkinkan pawang bekerja dari jarak jauh, dari luar kota misalnya. Katanya jauh2 hari sebelum perhelatan dimulai, pawang melakukan survey di lingkungan tempat tinggal yang punya hajat, bermaksud untuk membaca arah angin dan khususnya untuk berkenalan dengan penguasa gaib di sana dan ngajakin kolaborasi. Menurut referensi, ada penguasa gaib untuk unsur2 tertentu. Mungkin sejenis Avatar kali ya (haha) yang bisa mengendalikan air, angin, api. Nah si pawang ini akan duet dengan penguasa air dan angin. Setelah itu dia mulai bekerja memanipulasi muatan elektron yang ada pada awan, dan dengan kekuatan bioenergi akan memainkan medan magnet awan (telekinesis) sehingga dia bisa mendorong, memindahkan, menahan, bahkan menurunkan/menyedot (menjadi hujan), atau sekedar mendatangkan awan dari daerah lain (menjadi mendung/teduh). Selain bioenergi, pawang juga menggunakan tenaga batin, seperti rapalan mantera, apalagi jika diperkuat dengan lelaku prihatin macam puasa, mutih, ngableng, pati geni, nglowong, dan lain-lain.** Ada juga yang memakai jasa khodam, dengan menancapkan cabe dan bawang.

Sebenarnya orang2 itu sudah mengerti, bahwa mempercayakan pawang hujan haram hukumnya bagi Muslim. Terkadang saking menuruti tetua, mereka menggadaikan iman, berlaku syirik, lebih mempercayai ada kekuatan lain selain kekuatan Allaah. Naudzubillah tsumma naudzubillah.

Yang tak kalah pentingnya dibahas adalah bukan tentang pawangnya, atau para customernya, melainkan para komentatornya. Jika mereka sudah jelas dihukumi kufur akbar, maka bagaimana dengan para penonton yang hobinya berkomentar? Janganlah berkomentar, “Kalau ada hajatan pasti lah gak akan turun hujan” atau komentar sebaliknya, “Kok hujan sih? Pasti pawangnya kurang hebat”, dll. Innalillahi. Bukankah komentar spontan itu menunjukkan pengakuan kita pada kekuatan pawang? #think

Gak usah deh, jangan sekali2 pakai jasa pawang jika hujan sedang tak kita rindukan. Cukup dengan do’a seperti yang telah diajarkan Rasulullah sallallahualaihi wa salam, . “Konon kami tidak melihat gumpalan awan antara kami dan sela-sela gunung Sal’a dan tidak nampak pula awan diatas rumah kami. Tiba-tiba datang gumpalan awan seperti perisai, maka tatkala gumpalan awan tersebut menyebar menutupi sebagian langit maka turunlah hujan. Demi Allah pada hari sabtu kami tidak melihat matahari, kemudian datang seorang pada hari jumat berikutnya untuk menemui Nabi. Tatkala itu Nabi sedang berkhutbah, orang itu mengadu kepada Nabi :” Ya Rasululloh binasalah harta kami dan terputuslah jalan-jalan kami “.Nabi bersabda : ” Memohonlah kamu kepada Allah karena hanya Dialah yang dapat menolak hujan, kemudian Nabi mengangkat kedua tanganNya sambil berdo a: ” Ya Allah jadikanlah hujan ini pindah pada sekitar kami jangan jadikan hujan ini untuk kami. Ya Allah pindahkanlah hujan ini diatas gunung, bukit yang lembab, lembah gunung atau tempat tumbuhnya pohon (hutan )”. (HR.Bukhari-Muslim).

Do make du’a. Berdoalah jika memang hujan sedang tak kita rindukan. Berdo’alah dan bertawakal padaNya. Jangan malah menantangNya. Ittaqillah!

#selfreminder
#pawanghujan

*image credit here