Ummi :Ge, Ummi sakit gigi nih?

Gege : It’s okay Ummi, gak papa kok. Cikat gigi aja. Mi…

😀

Advertisements

Bukan Kelas Biasa

Selalu ada cerita menarik di kelas Fahri. Siang itu saya mengajak Fahri untuk ikut membuat realia dari plastisin. Saya ajak dia untuk memilin plastisin dan membentuk alphabet sambil ‘call out’ bunyi hurufnya (phonic). Lalu dengan muka innocentnya dia bilang, “Miss, tapi aku mau bikin pem-pek dulu ya dari plastisin ini. Aku mau bikin pempek lenjer sama kapal selem…”Hehehe,… mentang-mentang papa mamanya juragan pempek nih… 😀 Oke, kelar milin alphabet kita belajar sambil nyanyi ABCs ya.

14203424_10207594885006520_580118328_o

Eniwei, Fahri itu adalah salah satu murid di 1650 English Corner.  Seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun dan mau belajar Bahasa Inggris pake syarat, yaitu belajar sendiri dulu, belum mau bergabung dengan kelas regular Very Young Learners (VYL). Awalnya saya sedikit keberatan, mengingat jadwal kelas yang sudah padat, dan waktu yang terbatas. Tapi, saya gak tega menolak permintaan anak yang ingin mencoba belajar Bahasa Inggris. Hm, why not? Sebenarnya pada pertemuan perdana, saya nyaris gagal.

Pada pertemuan perdananya, Fahri nyaris menangis, kyaaaa, kyaaa… I was panicking myself. Ba’da zhuhur itu Fahri datang diantar oleh Mama dan kakak perempuannya, lalu Fahri ditinggal, berdua saja dengan Cikgu :D, juga dengan Fathan yang kebetulan sedang ‘poop’. Saya meminta Fahri menunggu sebentar sementara saya bereskan dulu hajat Fathan. Pas saya kembali, wajah Fahri yang bening itu sudah berubah merah jambu, matanya berair, hidungnya kembang kempis, sobbing T_T. “Fahri, kenapa menangis, anak baik?” Dia gak menjawab, terlihat insecure. “Fahri mau minum?” Dia menggeleng. “Mau pulang?” Mengangguk, kemudian menggeleng kemudian mengangguk lagi. Duh, cikgu panicking, nak, maklum pertama kalinya menghadapi situasi begini. Saya jadi bisa merasakan perjuangan berat guru-guru usia dini, yang mungkin seringkali harus ekstra sabar menghadapi berbagai macam kemungkinan respon anak-anak. “Baik, tunggu sebentar ya, nak”. Sambil seolah pegang hape siap calling Mamanya, saya putar otak. Alih-alih memberitahukan Mama Fahri kalo Fahri nangis, saya bilang ke Fahri, “Hm, Fahri, Miss punya banyak kartun anak loh. Fahri sukanya kartun apa?” Pelan-pelan dia menjawab, “Fahri suka Upin-Ipin sama Boboiboy sama Masha”. Oke, ahirnya saya ajak dia nonton beberapa kartun upin-ipin dan Boboiboy. Sambil mengajak dia mengobrol hal-hal yang menarik baginya. Tak butuh waktu lama, Fahri sudah bisa mulai tersenyum, bahkan tertawa ketika melihat aksi karakter favoritnya. Saya lega, ahirnya Fahri bisa rileks, makin rileks ketika saya tawarkan aktivitas menggunting dan tempel. Fahri yang kidal itu dengan hati-hati menggunting pola gambar binatang. Kemudian, saya ajak Fahri untuk matching gambar binantang dengan silhouette-nya, dan menyebutkan nama binatangnya dalam Bahasa Inggris. Saya sengaja biarkan dia bermain gunting tempel, dan matching sepuasnya. Fahri nampak sudah sangat rileks, sudah mulai banyak bercerita, tentang keluarganya, sekolah, teman-temannya, etc. Alhamdulillah. Pas saya tanya, Fahri bisa gambar gak? Dia bilang, bisa Miss.” Lalu inilah gambaran Fahri 🙂

14215633_10207528426145090_1820640892_o

Waktu Fahri masih sibuk mewarnai gambar rumahnya, Papanya datang menjemput, khawatir Fahri menangis. Alhamdulillah, Fahri pulang dengan sumringah, katanya tak sabar menunggu les selanjutnya 🙂

14285660_10207528426105089_525118343_o

Pada pertemuan2 selanjutnya, Fahri sudah sangat siap belajar. Eh, bermain sambil belajar, maksudnya. Saya memang membedakan pendekatan mengajar Fahri dengan kelas reguler seusianya, karena setiap murid punya keunikan tersendiri, begitupun Fahri, yang gaya belajarnya dominan kinestetik. Maka, jika kelas reguler belajar ‘counting’ bisa hanya dengan menyimak atau hands on sederhana, Fahri akan lebih memilih belajar menghitung sambil lompat-lompat sembari mengikuti nursery rhyme, “5 little monkey jumping on the bed”, atau “10 bananas” 🙂 Cikgu pun harus sedia energi ekstra untuk mengimbangi energi Fahri 😀

Dan begitulah, setiap murid itu unik, there’s no such difficult learner, just enjoy and have fun!

 

 

Hari Pertama Kelas Inggris

Seperti hari pertama masuk sekolah, beberapa anak usia 5-7 tahun nampak sedikit nervous ketika masuk kelas. Perasaan yang biasa dialami oleh anak-anak, wondering, penasaran bagaimana kelas mereka akan berlangsung. Akankah menyenangkan? Atau justru mengerikan? Bagaimanakah pembawaan guru mereka? Bisakah mereka mengikuti pelajaran? Dll, pertanyaan-pertanyaan itu seolah tertulis pada raut wajah2 innocent itu. Sapaan guru pun, masih malu-malu dan takut untuk dijawab, bahkan ada yang malah menggeliat di balik lengan mamanya. “Ayo, anak-anak sholehah, kita berdo’a dulu, ya…” Sampai usai berdo’a pun masih terlihat canggung, tapi si mama sudah tidak di sisi anak, dan kontrol kelas tertuju pada Cikgu mama. 😀

Es beku harus segera dicairkan dengan icebreaker, system limbik harus segera dibuka. Karena bagaimanapun beberapa menit awal pertemuan pertama ini sangat penting, sangat berpengaruh terhadap penilaian mereka tentang subjek yang akan segera mereka pelajari, dan juga tentang gurunya. Seperti umumnya tatap muka perdana, “topik perkenalan” menjadi andalan. Ada beberapa kegiatan ice-breaker yang bisa diterapkan untuk anak-anak dengan rentang usia di atas, salah satunya dengan “ball game”. Kenapa Cikgu mama memilih “Ball Game?” 😀 hehe, karena anak-anak yang bahkan belum lancar membaca dan menulis itu, butuh kegiatan “repeat after”, menirukan dengan lantang apa yang guru ucapkan. Di samping itu mereka bisa menggunakan tangan, mata, telinga, dan mulut, serta fokus pada instruksi. Caranya? Anak-anak dipersilakan duduk di bangku/kursi dalam satu baris menghadap guru yang duduk sejajar dengan mereka dengan jarak yang terjangkau anak-anak melempar bola. Dengan menggunakan bola bantal (bisa juga bola lain dengan permukaan lembut), saatnya main lempar tangkap bola! Ajari anak untuk merespon pertanyaan guru. Misal:

Guru                      : What is your name? (Lempar bola ke murid A)

Murid A                : My name is Viona. (Tangkap bola, lempar kembali ke guru)

Guru                      : What is your name? (Lempar bola ke murid B)

Murid B                 : My name is Qiran. (Tangkap bola, lempar kembali ke guru)

ball

Begitu seterusnya, sampai mereka menguasai dan faham. Lempar tangkap bola dilakukan berurutan dari murid A, ke B, ke C, jika sudah lancar bisa dilakukan secara acak, anak-anak akan surprise dengan kedatangan bola yang tiba-tiba, dan biasanya akan mulai terdengar tawa mereka. Selanjutnya tinggal divariasikan dengan jenis pertanyaan dasar perkenalan, seperti, “how are you? How old are you? Nice to meet you, etc”. Oh ya, sekali lagi jangan sampai kelupaan satu hal, saat menjawab pertanyaan “how are you?” Jangan cuma ajarkan, “I am fine, atau I am wonderful, atau I am great” saja. Ajarkan untuk tidak lupa mengucapkan, “Alhamdulillah” yang artinya segala puji bagi Allah, bukankah Allah yang sudah beri kita sehat? Okay, kids? J Maka anak-anak super manis itu dengan mantap, menjawab sambil menangkap bola yang sukses mendarat di pelukan mereka dengan balasan, “Alhamdulillah, I am wonderful” 🙂 Ah, Cikgu terharu, nak…

Selanjutnya bisa ajak mereka menonton dan memperagakan “nursery rhymes” tentang perkenalan . Ada banyak sumber belajar di youtube, missal channel Super Simple Learning (Misal yang berjudul ‘Hello!’). Ajak anak untuk berdiri, stretching dulu sebelum memperagakan nursery rhyme, daaaan, have fun! And they were enjoying the rhymes with their sparkling eyes. 😀

Next, mereka butuh jeda. Istirahat dimulai. Recess Time. Dan kegiatan di dalamnya yang akan semakin membuat system limbik mereka terbuka lebar (rileks). Biarkan mereka bermain di luar, atau bagi yang memilih tetap indoor dan snacking, biarkan mereka menikmati waktu mereka. Beradalah di antara mereka, mengenal mereka lebih dekat, ngobrol dengan bahasa mereka, meluruskan hal yang salah, mengapresiasi hal yang baik, de el el. Sebaliknya, biarkan mereka juga mengenal guru mereka. Berceritalah tentang apa saja yang menggambarkan diri kita. InsyaAllah mereka akan terbuka dan bercerita layaknya sedang curhat dengan sahabat. Misal yang terjadi selama recess time tadi, ada yang memulai snacking time mereka tanpa mengucapkan basmallah, maka segera tegur dengan lembut, tunjukkan video anak yang menceritakan pentingnya berdo’a agar syetan tak ikut makan bersama kita. Biasanya anak akan tersenyum malu, “hehe, iya, lupa, Miss”. “Iya, kalo lupa gak-papa, insyaAllah. Eh, tapi kan ada loh, do’anya kalo lupa baca bismillah sebelum makan, mau tahu gak? Sini, Miss ajarin ya!” Eh, tiba-tiba teman di sebelahnya menyahut, “Miss, aku gak takut sama syetan. Kalo aku takutnya ama kuntilanak sama pocong”  EH?! “Sayang, kuntilanak sama pocong itu gak ada. Yang ada syetan yang suka bisikin buat gak nurut sama orang tua, atau yang suka godain kita biar kita lupa berdo’a. Takutnya sama Allah aja ya, nak. InsyaAllah kalo kita selalu berdo’a, syetan-syetan pada lari kebirit-birit…” Jawaban polos mereka adalah, “O gitu ya, Miss. Iya deh.” Ada juga yang kemudian menambahkan cerita yang terjadi saat sekolah. “Miss, ada temenku yang berani nantangin Allah. Kata dia, Allah itu punya kekuatan. Aku juga punya, kata dia.” (Dalam hati, ya Allah, banyak hal yang harus diluruskan, beri hamba pemahaman yang baik untuk tetap bisa menjadi pendengar cerita mereka dan meluruskan yang salah, insyaAllah).

Oke, recess time’s up. Waktunya review aktivitas hari ini. Lalu clean up. Terus bersiap pulang. Jangan lupa berdo’a.

See you next meeting, little cuties ❤ insyaAllah