Kura-kura

image

”Gambar apa itu, Ge?”
”Kura-kura, Mi.”
”Kakinya banyak amat?”
”Biar larinya cepet”

O_o ❀

Advertisements

Belajar Mencintai (sayuran) dengan Dramatic Play

#LatePost

Beberapa hari ini alhamdulillaah Abang Ghozi mulai belajar (lagi) mencintai sayuran. Sayur apa saja yang dihidangkan di atas meja. Sayur yang dibelinya di pasar tradisional bersama ummi. Sayur yang tadinya selalu ditolaknya mentah-mentah πŸ˜€

Ahirnya ummi bisa tersenyum lebaaar kali ini melihat lahapnya Abang Ghozi makan sayur bening bayam πŸ™‚ bahkan minta tambah lagi sayur bayamnya! Fhuuuuuh *alhamdulillaah

Jika harus mereview menu sehari-hari Ghozi (Gege) selama ini pasca MPASI memang kurang berimbang asupan antara vitamin dan protein-nya. Sewaktu masih MPASI, sewaktu Gege masih sangat penurut dan bisa dikontrol menunya, sayur apa saja akan dimakan, e.g. sayur sop, brokoli, bayam, kacang, sayur asem… Beranjak lebih besar, menjadilah dy seorang ‘picky eater’ maunya makan protein hewani melulu, dan itu-itu saja, e.g. lele goreng, ayam goreng, pindang ikan, dan gulai ayam. Gege sendiri seolah sudah deadlock dengan yang namanya ikan lele, he’s that ‘lele monster’ *ups. Untuk mensiasatinya, namun sangat jarang saya lakukan, ya paling bikin nugget lele campur sayur. Karena seringnya makan yang protein hewani, Gege mengidap kelebihan protein, jadinya suka muncul bintitan diujung kelopak matanya. Kalau sudah begitu, I feel so bad, I feel Iike I’m not a good mother 😦

Sekarang…

Paling tidak saya sudah menemukan satu cara ampuh insyaAllaah untuk mempengaruhi alam bawah sadarnya bahwa makan sayur itu ‘seenak makan ikan’, plus menyehatkan πŸ™‚

Yaitu dengan #DramaticPlay πŸ˜€

Biasa juga disebut pretending atau imaginative play. Bermain peran dalam situasi dan topik yang sudah disepakati bersama. Dramatic Play semacam ini sudah menjadi aktivitas harian di rumah kami, paling bisa diandalkan saat butuh amunisi untuk menanamkan ‘value’ tertentu. Misal saat Gege malas mandi, metode ceramah dan bujuk rayu mah bagai pungguk merindukan bulan. Salah satu skenario yang bisa dimainkan untuk berdramatic play, misal:

Ummi : ”(Ambil salah satu action figure koleksi Gege) Bang, coba dengerin Bima X mau ngomong.”
Gege : ” (mata berbinar, senyum cengar cengir)
Ummi : ”Gege, please take me to bath, aku mau mandi Gegeeee. Badanku sudah bauuuuu’ aseeeem. Aku mau mandi di bawah pancuran, pake sabun dan gosok gigi juga. Oke?! Let’s go! (Karakter suara diubah lebih berat dan mantul kayak ‘Optimus Prime’) πŸ˜€
Gege : “Okeeeeee!” 
Ummi : “(dalam hati) mission completed! Yikes!”

Demikian juga pada saat main sekolah-sekolahan sebagai alternatif Gege yang belum tertarik sama sekali untuk masuk Play Group. Jadi selama pelajaran berlangsung Gege berlagak seolah seorang murid TK yang baik. Pakai tas dan sepatu, naik sepeda, pamit dengan semua orang, tak berselang lama terdengar salam dari anak sekolahan pura-pura itu :D, ”Assalamu’alaykum bu guluuuuu!” hehe, bikin geli dengernya. Tapi justru disaat memainkan dramatic play tersebut, saya bisa leluasa mengontrol emosinya, mengajarkan macam-macam sikap dan basic life skill.

Kembali ke sayur, πŸ™‚
Yang saya lakukan biasanya berlagak sebagai seorang kritikus makanan, atau seorang detektif rasa, atau seorang food blogger πŸ˜€ yang sedang mencicipi sayur, e.g. sayur bening bayam.

Ummi : ”Hmm, rasanya enak banget, sedap, pecaaaaah di mulut! So yummy! Juara banget enaknya! Mau coba? (Ini mah muji masakan sendiri namanya, hehe)”

Alhamdulillaah, responnya positif. Sst, dia penasaran. Pertama ngelirik isi piring, beberapa jurus kemudian :
Gege : ”Mau doooong!”

-Mission completed- πŸ™‚

Saat sudah ‘masuk perangkap’ saatnya sounding, doktrin sayuran, hehe.
Ummi : Gimana? Sayurnya beneran enak kan? Yummy kan? Iya dong, biar sehat terus, anak pintar makannya sayur kan? Upin-Ipin juga sama kayak Gege, mereka suka makan sayur….bla bla blah πŸ™‚ determined emoticon.

Gege : ”Yumm, iya, sayur enak ya, Mi! Mau lagi….!”
Ummi : ”Alhamdulillah…besok sayur kangkung yaa?”
Gege : ”Okeee!”

πŸ™‚

Manfaat Dramatic Play
Sudah banyak penelitian dilakukan terkait manfaat Dramatic Play untuk perkembangan anak, baik kemampuan kognitif atau sosial. Dramatic Play setidaknya mampu membuat keempat area ini berkembang:
– Kognitif : Anak belajar tentang pemecahan masalah (problem solving), negosiasi, kreativitas, perencanaan, juga penerapan tentang pengetahuan yang baru saja didapatnya.
– Fisik : Anak dapat mengasah motorik halus dan kasar, koordinasi dan kekuatan tubuh.
– Sosial/Emosi : Anak belajar tentang berbagi, menunggu giliran, negosiasi, berkoordinasi, dan bagaimana saat harus menghadapi kekecewaan. Anak juga belajar tentang penghargaan diri (self-esteem), kebangaan dan kepuasan, perasaan aman dan nyaman, mengembangkan rasa keakuan diri.’
– Bahasa : Anak belajar mengembangkan kosakata selama bermain peran terhadap topik yang dimainkan, belajar bertanya jawab, dll.

Gimana, banyak ya manfaat dari Dramatic Play ini? So, let the children play! πŸ™‚

image

Homemade Telur Gabus

Siang kemarin Gege bantuin ummi bikin camilan ‘telur gabus’. Dia seneng banget bantu milin adonan tapioka + telur itu. Kita bikin yang ori dulu deh ya, Sambil bantuin milin terus dicemplungin di rendaman minyak dingin, Gege terus nanya ini itu. ”Ini apa mi? Macuk cini ya, Mi? O, macuk cini… Gege iat, Mi…” etc. Setelah selesai milin semua, seperti biasa Gege minta digendong, dia mau lihat proses masaknya. πŸ˜„

Inilah dia ‘telur gabus’ yang segede ‘telur buaya’ karya Gege πŸ˜‚

image

”Cicip, Mi!” Pinta Gege. Ternyata dia suka hasil karyanya sendiri, πŸ˜„

Hide and Salam

Gege punya kebiasaan memberikan ‘surprise’ khususnya untuk family member πŸ˜„ Gege suka main ‘hide and seek’ alias petak umpet yang kadangkala bikin saya cemas. Soalnya, seringkali saya sulit menemukan keberadaannya πŸ˜ƒ Jago banget kalo ngumpet, tak menimbulkan suara atau gerakan mencurigakan πŸ˜€ Nanti kalau saya sudah hampir pasrah, barulah dy nongol dengan penuh kemenangan sambil ngagetin siapapun pencarinya, “Baaa!!!” katanya. Kalau sudah begitu, tinggal diuyel2 aja tuh rambut plus pencet idung karena gemes.

Bukan apa-apa, saya khawatir saja jika anak ini sedang ngumpet, saya kira dia main ke luar tanpa pamit, atau kenapa-napa.

Sekarang kami tak perlu risau lagi, ada trik khusus agar dengan mudah kita menemukan persembunyiannya, πŸ˜ƒ Kalau lagi ngumpet, meski kita panggil nama Gege seratus kali pun, dy akan kekeuh tak mau menjawab, mute. Nah, beda jika kita bilang, “Assalamu’alaykum…” Pasti langsung ada sahutan misterius, “Calaaam” dengan bahasa cedal-nya, maksudnya “Wa’alaykumsalaam”. Hup, cus melesat, ketemuuuu!!!! I found you, Geee! Dan Gege pun tertawa riang πŸ˜„

Ya, sebab menjawab salam wajib hukumnya ya Ge πŸ˜‚