Teroris

Semua orang juga tahu kalik siapa the real terrorists yang gak akan pernah ridho dengan deen ini, yg segala makar ditempuhnya untuk menghancurkan Islam, sekaligus mewujudkan tatanan dunia baru buat mereka, khususnya buat 3% kaum elit dunia, including Zionis laknatullah ‘alaih. Makarnya Trump, yang mencoba memindahkan Ibukota Israhell ke Jerussalem (Al-Quds) makin membuat ummat bersatu padu membela, karena sejatinya Al-Quds hanya milik Allaah, milik Palestina.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ
اَللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّى وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ. نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ

Isu Palestina selama puluhan tahun itu semakin membuka lebar mata dunia, tak hanya umat Islam. Apalagi dengan bukti konspirasi pengikut dajjal yg tak lagi bisa dibantahkan. Sebagai manusia yang masih memiliki nurani, tak pantas rasanya hanya berdiam diri. Do something. Lakukan sesuatu. Jangan malah tak perduli dan menarik diri.

Advertisements

Muslimah Kok Gokil?!

Innalillahi… ahir zaman. Fenomena muslimah gokil, alay, dan lebay makin menjamur. Kalau kita semua diam, maka sama saja mebenarkan kelakuan saudari2 kita sendiri. Sebut saja Ria Ricis. Maap sebut merk. Publik figur, selebgram dan video creator dengan 7.9 juta followers instagram yang lagi anget2nya diperbincangkan saat seorang netizen mengkritik kelakuan Ricis yang dinilai berbahaya, khususnya bagi anak2 remaja penggemarnya. Ricis memposting video tentang squishy dares, ada yang mengguntingnya, membuangnya ke closet, buang ke laut, diblender, etc. Sebenernya konten video itu

Continue reading “Muslimah Kok Gokil?!”

1650 English Corner

Bismillah,

Sabtu kemarin (27/8), seperti biasa ada sekelompok anak usia SD-SMP belajar Lingua Franca di rumah. Ba’da Ashar mereka sudah berkumpul, mulai saling menyimak hafalan teks pendek yang saya berikan di pertemuan sebelumnya. Teks tentang bagaimana memperkenalkan identitas diri dalam bahasa ‘Enggres’ (kata sebagian orang tua).

Kelas dimulai. Seorang anak laki-laki memimpin do’a. Memimpinnya dalam bahasa Inggris, berdo’anya dalam bahasa Arab 🙂 It’s okay meski masih belepotan ngucapin ‘pray’ jadi ‘spray’ karena saking semangatnya 🙂 Selanjutnya saling menanyakan kabar mereka dan kabar hafalan. 90% alhamdulillaah sudah hafal. Satu per satu maju, dengan teks yang nyaris sama, hanya identitas yang berbeda. Satu hal yang selalu saya ingatkan pada murid-murid luar biasa itu, bahwa ketika mereka memperkenalkan diri, jangan malu untuk menunjukkan identitas mereka sebagai seorang muslim. Dan, satu per satu dari mereka tak ada yang ketinggalan menyebutkan, ”I am a muslim and very proud, alhamdulillaah”.

Ya Rabbi, mengajarkan mereka untuk bisa dan biasa mengucapkan itu rasanya bagai menemukan Oase di tengah sahara. Rasa yang sama saya rasakan seperti saat beberapa murid yang terbiasa mengejek (membully) teman-temannya mulai mengurangi kebiasaan buruk itu. Bahkan mereka spontan menepuk mulut mereka sendiri saat sengaja atau tidak mereka kembali membully, sembari beristighfar dan meminta ma’af pada temannya itu. Karena di awal, mereka sudah menyepakati peraturan bahwa tidak ada yang boleh saling bully, sebagai konsekuensinya, mereka harus beristighfar dan meminta ma’af. Maka sekarang, di pertemuan kesekian kalinya, tak lagi gaduh terdengar laporan ada yang sedang membully. Kalau sebelum ini, saya sering dengar murid saya laporan,” Miss. Nabil ngebully lagi, aku dikatain item.” Atau ada juga laporan karena diejek ‘kiting-lah, jelangkung-lah’, dan sampai level ‘mata loe, palak loe, bapak loe sukijan, kampret’ etc. Segala verbal bully yang menyedihkan, karena semakin merendahkan kepercayaan diri yang dibully. Karena saya termasuk yang setuju bahwa tidak ada yang boleh menghina diri kita, maka saya ajarkan mereka untuk melindungi harga diri mereka, melawan tanpa ikutan membully. ”Waduh, kayaknya kamu gak tahu ya, bedanya warna arang sama kulit sawo? Eh, ngomong-ngomong, kamu sama aja ngebully Allah loh, kan aku ciptaan Allah. Mau warna kulitku kayak apa ya terserah Allaah, mau tinggiku kayak tiang listrik kata kamu, yah, itu sih urusan kamu sama Allaah.” etc.

Begitulah, kelas saya tak banyak mengupas detail lingua franca, karena yang lebih mereka butuhkan sekarang adalah manner, so, matter comes later. Maka saya tak begitu ambil pusing saat murid saya menuliskan ‘grandfather’ dengan ‘ger pader’ 😀 coz they’ll soon know how to write ‘grandfather’ correctly, insyaAllah.

Barakallahu fikum, learners!

– A Prologue –

image

😀 My pader and my sirter visited my ger pader and my angkel.

Hospital Visit

Beberapa minggu yang lalu, Gege ikut nemenin nenek kontrol di RS. Antrian pasien Poli lumayan padat, makanya lama banget nunggu giliran dipanggilnya, apalagi harus cek darah tiap kali kontrol. Setengah jam pertama Gege masih nicely behave. Setengah jam berikutnya mulai terlihat bete 😦 Mulai jenuh dengan suasana poliklinik yang menjemukan. Berbagai pertanyaan pun sudah dilontarkan, seperti, ”Mi, lihat (sambil menunjuk pasien anak luka bakar), kasihannyaaa. Dia sakit ya, Mi?” Jawab saya, ”Iya bang. Kakak itu kena ledakan mercon pas dia main mercon. Kulitnya kebakar, sakit bang. Kasihan ya. Alhamdulillaah Gege gak suka main mercon, kan? :-)” Terus dijawab,”Iya Mi. Bahaya dong!” 🙂 Pertanyaan selanjutnya seperti, ”ini apa, mi? Ini bacanya apa? Ini angka 4, kan?” etc.

Kembali dia teringat sedang bete. Amunisi beberapa snacks yang dibawa juga sudah menipis, sedangkan antrian masih seperti satu bis 😀 Bosan bermain lari-lari, Gege ngubek-ngubek isi tas saya. Sebelumnya dia merengek kegerahan, mau lepas baju. Saya bilang nanti di rumah baru boleh, tapi tanda2 mau tantrum nyaris saja. Ya, udah sebentar aja, ya, nanti dipake lagi, oke deal. Dari dalam tas Gege menemukan pena, dan saya baru teringat lupa membawa buku coret2, atau kertas. Jadilah, sisa fc surat kontrol jadi sasaran ;D

image
Kata Gege ini gelombang air

Alhamdulillaah tiba giliran nenek diperiksa pakdok. Setelah menunggu cukup lama untuk antrian obat di apotek, Gege kembali gak sabar dan setengah merengek minta pulang. Tangan saya ditarik-tariknya, ”ayo, Mi. Pulaaaaang” teatrikal pokoknya, ditonton puluhan pasang mata. Sedangkan mata saya sibuk mencari objek pengalihan ‘kejenuhan’ Gege. Thanks to a flying insect, gak tahu namanya apa, yang jelas masih satu famili dgn butterfly. Si insect yang nempel di pintu geser ruang rontgen, tak bergeming saat saya tanya ini itu, haha. Berhasil, Gege begitu antusias dan selanjutnya mengamati insect yang nemplok tak bergeming.

Yuk, pulang, bye insecy! 🙂

Hujan yang tak Dirindukan

Sebuah antena’ anti hujan nancep dengan pedenya di pekarangan salah satu tetangga yang akan menggelar syukuran kelahiran bayi. Merahnya cabe begitu mencolok, ditambah bawang merah putih tertancap tak berdaya demi memenuhi keinginan tuan rumah yang tak ingin hujan turun.

Semua orang sudah mengerti. Praktek klenik ini juga sudah berlangsung sejak zaman jahiliyah. Konon orang Arab Jahiliyah percaya kepada sesuatu yang dinamakan “Nau” yang dapat menurunkan hujan bukan Tuhan. Nau adalah bentuk ramalan benda-benda langit yang diyakini dapat menurunkan hujan. .
Di sini kita mengenal manusia pawang hujan, yang mengaku bisa mengusir hujan, memindahkannya, atau minimal menahannya agar tak tumpah. Katanya semakin kuat tenaga dalam (bioenergi) yang dimiliki pawang, memungkinkan pawang bekerja dari jarak jauh, dari luar kota misalnya. Katanya jauh2 hari sebelum perhelatan dimulai, pawang melakukan survey di lingkungan tempat tinggal yang punya hajat, bermaksud untuk membaca arah angin dan khususnya untuk berkenalan dengan penguasa gaib di sana dan ngajakin kolaborasi. Menurut referensi, ada penguasa gaib untuk unsur2 tertentu. Mungkin sejenis Avatar kali ya (haha) yang bisa mengendalikan air, angin, api. Nah si pawang ini akan duet dengan penguasa air dan angin. Setelah itu dia mulai bekerja memanipulasi muatan elektron yang ada pada awan, dan dengan kekuatan bioenergi akan memainkan medan magnet awan (telekinesis) sehingga dia bisa mendorong, memindahkan, menahan, bahkan menurunkan/menyedot (menjadi hujan), atau sekedar mendatangkan awan dari daerah lain (menjadi mendung/teduh). Selain bioenergi, pawang juga menggunakan tenaga batin, seperti rapalan mantera, apalagi jika diperkuat dengan lelaku prihatin macam puasa, mutih, ngableng, pati geni, nglowong, dan lain-lain.** Ada juga yang memakai jasa khodam, dengan menancapkan cabe dan bawang.

Sebenarnya orang2 itu sudah mengerti, bahwa mempercayakan pawang hujan haram hukumnya bagi Muslim. Terkadang saking menuruti tetua, mereka menggadaikan iman, berlaku syirik, lebih mempercayai ada kekuatan lain selain kekuatan Allaah. Naudzubillah tsumma naudzubillah.

Yang tak kalah pentingnya dibahas adalah bukan tentang pawangnya, atau para customernya, melainkan para komentatornya. Jika mereka sudah jelas dihukumi kufur akbar, maka bagaimana dengan para penonton yang hobinya berkomentar? Janganlah berkomentar, “Kalau ada hajatan pasti lah gak akan turun hujan” atau komentar sebaliknya, “Kok hujan sih? Pasti pawangnya kurang hebat”, dll. Innalillahi. Bukankah komentar spontan itu menunjukkan pengakuan kita pada kekuatan pawang? #think

Gak usah deh, jangan sekali2 pakai jasa pawang jika hujan sedang tak kita rindukan. Cukup dengan do’a seperti yang telah diajarkan Rasulullah sallallahualaihi wa salam, . “Konon kami tidak melihat gumpalan awan antara kami dan sela-sela gunung Sal’a dan tidak nampak pula awan diatas rumah kami. Tiba-tiba datang gumpalan awan seperti perisai, maka tatkala gumpalan awan tersebut menyebar menutupi sebagian langit maka turunlah hujan. Demi Allah pada hari sabtu kami tidak melihat matahari, kemudian datang seorang pada hari jumat berikutnya untuk menemui Nabi. Tatkala itu Nabi sedang berkhutbah, orang itu mengadu kepada Nabi :” Ya Rasululloh binasalah harta kami dan terputuslah jalan-jalan kami “.Nabi bersabda : ” Memohonlah kamu kepada Allah karena hanya Dialah yang dapat menolak hujan, kemudian Nabi mengangkat kedua tanganNya sambil berdo a: ” Ya Allah jadikanlah hujan ini pindah pada sekitar kami jangan jadikan hujan ini untuk kami. Ya Allah pindahkanlah hujan ini diatas gunung, bukit yang lembab, lembah gunung atau tempat tumbuhnya pohon (hutan )”. (HR.Bukhari-Muslim).

Do make du’a. Berdoalah jika memang hujan sedang tak kita rindukan. Berdo’alah dan bertawakal padaNya. Jangan malah menantangNya. Ittaqillah!

#selfreminder
#pawanghujan

*image credit here