Don’t Run, Rain! Staaaaaaaaaaaaaaaaaay

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Hujan

Sabtu siang kemarin, saat sedang menghadiri acara walimah kakak Fahri (Fahri, see my previous post), hujan turun dengan sangat lebat. Lokasi pesta walimah yang berada di dataran rendah menjadikan aliran air hujan semakin deras, masuk ke celah-celah kursi tamu undangan yang sedang asyik bersantap, menghanyutkan beberapa piring porselen yang sudah tergeletak di bawah-bawah kursi, dan menghanyutkan sampah-sampah bekas air mineral dan aneka jenisnya. Panitia sibuk membantu tamu undangan untuk pindah tempat, tapi saya termasuk yang tidak ikut, bagaimana mau pindah, aliran air sederas itu, kaus kaki bisa terendam kuyup. Makanya, saya memilih untuk stay, dan angkat sendal (bukan angkat kaki, hehe).

Samar-samar terdengar keluhan dari bebrapa ibu-ibu yang sedang menyantap hidangan, “Duh, cucianku belum diangkaaatt.” Seorang ibu yang lebih tua menimpali, “Kan tadi udah dibilangin, angkat dulu, mendung noh” “Mana tahu mau hujan…”

Sementara itu, tukang es dan sosis goreng di pojok paling belakang terlihat manyun.

Mungkin banyak pula yang kasihan pada tuan rumah yang berhajat, jika hujan sederas ini, bagaimana…?

Hujan, oh Hujan. Allahumma shoyyiban naa’fia

Alhamdulillah ‘alaa kullihaal. Hujan itu berkah, rahmah, ijabah (do’a), jadi tak perlu gundah. Lihatlah, bagaimana anak-anak kecil yang bersuka cita menyambut hujan. Ghozi sendiri yang ikut kondangan, malah memanfaatkan aliran air hujan yang cukup deras itu untuk menghanyutkan boat yang dia bikin dari bekas gelas air mineral. Dan dia sangat menikmatinya, no worry.

Tak lama kemudian, hujan berhenti. Saatnya pamit. Menuju parkiran. Motor yang diparkir kehujanan, seperti biasa menyebabkan susaaaah diengkol. Bersyukur dibantuin tukang parkir, dan bersyukur juga karena hujanlah, motor jadi agak kinclong dikit, hehe.

Sampai di rumah, anak-anak sudah berkumpul. Siap untuk Saturday class, siap untuk science eksperimen.

*Ternyata, tanggal 15-17 Oktober ini, Lampung akan alami cuaca ektrim, kata BMKG.

Death

Kemarin diingatkan lagi bahwa kematian itu memanglah begitu dekat. Pagi hari itu mendengar dua kabar kematian dengan ahir hidup yang berbeda. Yang pertama, seorang teman masa kecil dulu di kampung halaman, beliau meninggal karena gagal ginjal. Masih muda, masih lajang. Seseorang yang semasa hidupnya banyak disukai orang karena iman dan akhlaknya, maka ketika meninggal banyak yang merasa kehilangan. Status-status facebook terahirnya tentang dzikrul maut,masyaAllah

“Ayah temanku tlh pergi
Sebuah keniscayaan tiap tiap yg berjiwa akan memasuki liyang lahat ini… Apa yg sdh kita siapkan? Jiwa ini sdh hilang ambisi dunia… Tiada lg ambisi menggunung… Yg terfikir hanyalah bekal amalan solehku….”

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Semoga saudaraku meninggal dalam keadaan khusnul khatimah.

Berita kematian kedua, pada saat yang sama, di lingkungan  kami tersiar kabar matinya seorang bujang yang tersengat listrik dini hari itu, pada saat hendak mencuri kabel listrik, naudzubillah. Pantesan, pada dini hari sekitar pukul dua listrik padam, ternyata terpaksa diputus aliran listriknya, karena si maling tersengat, nempel tak bisa lepas jika aliran listrik tidak diputus paksa. Ya Rabb,… apakah ini yang disebut mati konyol? wallahu’alam.

Kematian itu takdir Allaah, tapi kitalah yang menentukan apakah khusnul khatimah atau su’ul khatimah. Semoga Allaah matikan kita semua dalam kondisi sebaik-baiknya iman, aamiin allahumma aamiin.