Little Scientists in English Class

This slideshow requires JavaScript.

Kelas Young Learners (9-11 tahun)

Yang pernah atau sedang mengajar anak-anak usia SD, pasti mengerti ‘tantangan’ yang dihadapi. Salah satunya, mereka cepat sekali merasa bosan. Maka dalam sekali tatap muka, bisa ada beberapa variasi kegiatan. Dan untuk semua itu, sang guru banyak menghabiskan waktu untuk mempersiapkan aktivitas. Apalagi untuk pelajaran yang di sekolah pun tidak mereka dapatkan, jadi guru les harus puter otak, hehe.

Suatu ketika Cikgu bertanya tentang pelajaran favorit mereka. ”Do you like Science subject?” Hampir semuanya menggeleng, bahkan ada yang bilang, ‘it sucks’. ”Mau gak belajar Science yang asyik? Sambil eksperimen, sambil belajar kosakata B.Ing nya. Ahirnya kami sepakat untuk melakukan science eksperimen di ahir sesi kelas Sabtu. Sedangkan untuk kelas Selasa, akan ada drama class. Intinya variasi. Juga routine.

Sabtu lalu mereka belajar tentang cara kerja Volcano. Indikator belajarnya mereka bisa menyebutkan bahan dan alat yang diperlukan dalam Bahasa Inggris. Memahami ‘instructions’ pada lembar kerja. Dan yang paling penting, faham bagaimana reaksi yang ditimbulkan jika beberapa bahan dicampur. Acid, base, foam, carbondioxide, etc…

🙂

 

Sementara itu…

penampakan bocah2 kecil yang ikutan eksperimen

Bukan Kelas Biasa

Selalu ada cerita menarik di kelas Fahri. Siang itu saya mengajak Fahri untuk ikut membuat realia dari plastisin. Saya ajak dia untuk memilin plastisin dan membentuk alphabet sambil ‘call out’ bunyi hurufnya (phonic). Lalu dengan muka innocentnya dia bilang, “Miss, tapi aku mau bikin pem-pek dulu ya dari plastisin ini. Aku mau bikin pempek lenjer sama kapal selem…”Hehehe,… mentang-mentang papa mamanya juragan pempek nih… 😀 Oke, kelar milin alphabet kita belajar sambil nyanyi ABCs ya.

14203424_10207594885006520_580118328_o

Eniwei, Fahri itu adalah salah satu murid di 1650 English Corner.  Seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun dan mau belajar Bahasa Inggris pake syarat, yaitu belajar sendiri dulu, belum mau bergabung dengan kelas regular Very Young Learners (VYL). Awalnya saya sedikit keberatan, mengingat jadwal kelas yang sudah padat, dan waktu yang terbatas. Tapi, saya gak tega menolak permintaan anak yang ingin mencoba belajar Bahasa Inggris. Hm, why not? Sebenarnya pada pertemuan perdana, saya nyaris gagal.

Pada pertemuan perdananya, Fahri nyaris menangis, kyaaaa, kyaaa… I was panicking myself. Ba’da zhuhur itu Fahri datang diantar oleh Mama dan kakak perempuannya, lalu Fahri ditinggal, berdua saja dengan Cikgu :D, juga dengan Fathan yang kebetulan sedang ‘poop’. Saya meminta Fahri menunggu sebentar sementara saya bereskan dulu hajat Fathan. Pas saya kembali, wajah Fahri yang bening itu sudah berubah merah jambu, matanya berair, hidungnya kembang kempis, sobbing T_T. “Fahri, kenapa menangis, anak baik?” Dia gak menjawab, terlihat insecure. “Fahri mau minum?” Dia menggeleng. “Mau pulang?” Mengangguk, kemudian menggeleng kemudian mengangguk lagi. Duh, cikgu panicking, nak, maklum pertama kalinya menghadapi situasi begini. Saya jadi bisa merasakan perjuangan berat guru-guru usia dini, yang mungkin seringkali harus ekstra sabar menghadapi berbagai macam kemungkinan respon anak-anak. “Baik, tunggu sebentar ya, nak”. Sambil seolah pegang hape siap calling Mamanya, saya putar otak. Alih-alih memberitahukan Mama Fahri kalo Fahri nangis, saya bilang ke Fahri, “Hm, Fahri, Miss punya banyak kartun anak loh. Fahri sukanya kartun apa?” Pelan-pelan dia menjawab, “Fahri suka Upin-Ipin sama Boboiboy sama Masha”. Oke, ahirnya saya ajak dia nonton beberapa kartun upin-ipin dan Boboiboy. Sambil mengajak dia mengobrol hal-hal yang menarik baginya. Tak butuh waktu lama, Fahri sudah bisa mulai tersenyum, bahkan tertawa ketika melihat aksi karakter favoritnya. Saya lega, ahirnya Fahri bisa rileks, makin rileks ketika saya tawarkan aktivitas menggunting dan tempel. Fahri yang kidal itu dengan hati-hati menggunting pola gambar binatang. Kemudian, saya ajak Fahri untuk matching gambar binantang dengan silhouette-nya, dan menyebutkan nama binatangnya dalam Bahasa Inggris. Saya sengaja biarkan dia bermain gunting tempel, dan matching sepuasnya. Fahri nampak sudah sangat rileks, sudah mulai banyak bercerita, tentang keluarganya, sekolah, teman-temannya, etc. Alhamdulillah. Pas saya tanya, Fahri bisa gambar gak? Dia bilang, bisa Miss.” Lalu inilah gambaran Fahri 🙂

14215633_10207528426145090_1820640892_o

Waktu Fahri masih sibuk mewarnai gambar rumahnya, Papanya datang menjemput, khawatir Fahri menangis. Alhamdulillah, Fahri pulang dengan sumringah, katanya tak sabar menunggu les selanjutnya 🙂

14285660_10207528426105089_525118343_o

Pada pertemuan2 selanjutnya, Fahri sudah sangat siap belajar. Eh, bermain sambil belajar, maksudnya. Saya memang membedakan pendekatan mengajar Fahri dengan kelas reguler seusianya, karena setiap murid punya keunikan tersendiri, begitupun Fahri, yang gaya belajarnya dominan kinestetik. Maka, jika kelas reguler belajar ‘counting’ bisa hanya dengan menyimak atau hands on sederhana, Fahri akan lebih memilih belajar menghitung sambil lompat-lompat sembari mengikuti nursery rhyme, “5 little monkey jumping on the bed”, atau “10 bananas” 🙂 Cikgu pun harus sedia energi ekstra untuk mengimbangi energi Fahri 😀

Dan begitulah, setiap murid itu unik, there’s no such difficult learner, just enjoy and have fun!