CMIIW

Di TL ada yg share postingan seseakun tentang kenapa beliaunya gak mau ngucapin kata2 mainstream standar bahasa Arab seperti “jazakillah, syafakillah, qodarullah, fii amanillah, etc”.

Katanya bukan karena alergi arab atau anti Islam tapi karena ingin menghindari salah penggunaan kata2 itu yang bisa berakibat salah pemaknaan. Padahal beliaunya sendiri mengaku sudah hafal kitab dasar nahwu sharaf dari masih usia SD loh, maa syaa Allaah 😊, tapi tetep ya, lebih memilih mengartikan ‘kata2’ itu ke dalam Bahasa Indonesia lengkap dengan EYD-nya 😁, sekali lagi, biar gak makin runyam dan ribet.

Entahlah apa karena ekspektasi saya yang ketinggian khususnya terhadap mereka yang Allaah titipkan ilmu lebih: untuk berbagi bukan malah mencaci dan untuk meluruskan yang salah dengan hikmah bukan dengan amarah. Ya setidaknya, tidak menciptakan gundah dan melemahkan semangat meng-upgrade ilmu. Kalau dipikir2, alasan beliau ini sebenarnya kontradiktif dengan faktanya. Memilih meninggalkan bahasa Arab dalam keseharian tapi tidak mau disebut alergi arab. Kira-kira apa ya istilah bahasa Indonesianya yang pas, gitu? Yang sesuai EYD? πŸ˜† Jangan sampai ada yang bilang, “Bener juga ya, ngapain jadi kearab-araban kalau pakai bahasa sendiri saja belum sepenuhnya benar?” Ada yang mikirnya begitu? Saya yakin banyak, apalagi status tersebut sudah dishare sebanyak 6.2K (enam koma dua ribu) pengguna facebook.

Sebenarnya sebagai muslim ya wajar dong kita kepingin dekat dengan bahasa Arab, minimal menerapkan beberapa ungkapannya dalam ucapan dan tulisan, minimal jadi ngerti yang seuprit itu, minimal untuk menyamakan frekuensi sebagai sesama muslim, dan yang terpenting itu mengamalkan sunnah dan mendapatkan bonus pahala dari Allaah.

Kalau mau meluruskan yang salah kaprah itu, ya sebaiknya diperbaiki dulu penyampaiannya. Karena meski yang ingin disampaikan itu benar, jika disampaikan dengan cara yang salah, gak akan nyampe. Kalau sudah disampaikan dengan lembut tapi belum juga nyampe ke hati pembacanya, minimal sudah menggugurkan kewajiban dan meninggalkan kesan yang baik. Atau minimal share tulisan orang lain yang membahas permasalahan yang dimaksud, misal tentang beda penggunaan dhomir (kata ganti) dalam bahasa Arab, di mari.

In syaa Allaah, jika penulisan dan pemaknaan yang benar semakin sering dishare atau disosialisasikan, akan semakin banyak yang tersadar kesalahan penulisan itu, in syaa Allaah, tersadar untuk memperbaikinya ya, bukan untuk meninggalkannya, atau menggantinya dengan ucapan yang semakna dalam bahasa nasional atau daerah 😊

Di Indonesia ini jangankan penggunaan kata ganti, masalah penulisan dan pemaknaan untuk beberapa kata, seperti: in syaa Allaah, alhamdulillah, maa syaa Allaah, dan subhanallah saq masih banyak salah kaprah karena ketidaktahuan. Dulu saya termasuk yang suka menuliskan ‘alhamdulillah’ menjadi ‘alkhamdulillah’. Setelah tahu perbedaan makna transliterasinya, ya saya rubah, begitu juga dengan kata ‘husnul khatimah’ yang bener itu ‘husnul khatimah’ atau ‘khusnul khatimah’?, padahal makna keduanya sangat berbeda menurut kesepakatan transliterasinya. Dan ternyata sudah ada penelitiannya ya di link ini. Penelitian ini membuktikan sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih salah dalam segi penulisan dan pemaknaan kata serapan dari bahasa Arab, dan diharapkan penulisan yang terdapat dalam KBBI bisa diperbarui sesuai transliterasi aslinya.

Ahirnya, mari saling mengingatkan untuk kebaikan bersama. Jika belum bisa melaksanakan sebagiannya, jangan ditinggalkan seluruhnya, dan adab sebelum ilmu tetap yang utama, in syaa Allaah. 😊

Semoga Allaah mengampuni kelalaian saya, aamiin.

Advertisements

Ketahui Manfaat Rasa Sakit Saat Melahirkan

Katanya melahirkan normal itu sakiiiiiitttt banget ya? Eggak ada satu kata pun yang mampu menganalogikan rasa sakitnya?! Bahkan jika tugas melahirkan ini diberikan pada kaum pria, mereka juga enggak akan mampu? Beneran deh, ‘Dilan, melahirkan bayi itu sakit banget, kamu nggak akan kuat. Biar aku saja!’ Mwihihi πŸ˜ƒ

Tapi Dilan, enggak ada yang kebetulan di dunia ini. Andai Allaah mau, mudah saja bagiNya mencabut rasa sakit saat melahirkan bahkan kesusah payahan saat mengandung. Namun percayalah, dalam setiap ketetapanNya pasti ada kebaikan besar di dalamnya. Kalau kemudian harus ada rasa sakit, pasti ada manfaat dan hikmahnya baik bagi ibu maupun bayi yang dilahirkan.

Continue reading “Ketahui Manfaat Rasa Sakit Saat Melahirkan”

Bersahabat dengan Nyeri Kontraksi

Masih banyaknya calon Ibu yang tidak tahu bagaimana mereka harus menghadapi persalinan anak pertamanya (bahkan kedua, ketiga, dst) membuat saya ingin berbagi sedikit tips n tricks mengenai persalinan alami yang minim trauma. Saya sendiri pernah mengalami persalinan traumatis saat melahirkan anak pertama; prolonged labor yang nyaris berahir di meja operasi. Fase transisi yang menghabiskan sisa2 tenaga saya, mengharuskan saya dirujuk ke Rumah Sakit Bersalin terdekat (1 jam perjalanan). Suami sudah pegang informed consent untuk tindakan cs, tapi Allaah punya rencana lain. Bayi pertama saya lahir pervaginam meski harus merasakan episiotomi 😲.

Kembali ke judul. Bersahabat dengan nyeri kontraksi. Mungkinkah? Atau ada yang belum tahu apa itu kontraksi persalinan? Seperti apa sih sakitnya? Yuk kita bahas satu per satu in syaa Allaah.
Kontraksi adalah kondisi di mana otot-otot dinding rahim meregang dan mengerut. Rahim sendiri merupakan otot terbesar dalam tubuh seorang wanita. Kontraksi menjadi salah satu tanda bahwa persalinan sudah dekat. Namun perlu dipahami bahwa menjelang persalinan biasanya ibu akan mengalami dua macam kontraksi, yakni kontraksi palsu (braxton hicks) dan kontraksi asli. Kontraksi palsu sebenarnya sudah muncul sejak pertengahan kehamilan (uk di atas 20w), atau menjelang 40w, namun belum teratur dan tidak akan memicu proses persalinan. Kontraksi palsu ini berupa rasa mulas pada perut bagian bawah dan sakitnya tidak akan bertambah intens bahkan akan hilang dengan melakukan aktivitas fisik. Sementara kontraksi asli rasanya seperti mulas kram disertai nyeri yang menjalar dari punggung bagian bawah, ke pinggang, perut bagian bawah, dan seperti sensasi panas dan tajam pada vagina.
Sebenarnya, kontraksi yang dirasakan berbeda-beda antara wanita satu dengan lainnya. Ada yang merasakan seperti 1000x nyeri kram perut saat menstruasi, seperti pinggangnya mau lepas, vagina yang seperti mau meledak, dsb. πŸ˜€ Mengapa nyerinya bisa berbeda-beda, ya?

Continue reading “Bersahabat dengan Nyeri Kontraksi”

5 Manfaat Menakjubkan Konsumsi Buah-Buahan Lokal

Siapa yang suka makan rambutan, cuuuung! πŸ˜„

Itu sih sa-iya, dan alhamdulillah nya sekarang lagi musim rambutan, jadi bisa makan tiap hari sepuasnya πŸ˜‚ Sampe bulan depan (Februari) insyaAllaah mata ini juga masih dimanjakan dengan banyaknya buah rambutan yang pada mateng di kanan kiri jalan 😊. Maha besar Allaah yang telah mempergilirkan musim, termasuk musim buah yang silih berganti tiada henti.

Bicara tentang musim buah, di Indonesia sendiri yang beriklim tropis, aneka macam buah tumbuh subur dan akan panen sesuai musimnya. Banyak di antaranya justru dapat dipanen sepanjang tahun. Musim buah pada umumnya terjadi karena pengaruh iklim dan letak geografis. Di Indonesia, musim buah memiliki pola yang teratur sehingga dapat diprediksi waktunya. Perhatikan infografis berikut:

See? Tak ada habisnya. Selesai musim rambutan, musim duku sudah siap memanjakan lidah, juga manggis, alpukat, dan lainnya. Disusul musim jeruk manis, durian, de el el, maa syaa Allaah. Buah-buahan tropis ini rasanya… wuenak banget, beberapa di antaranya masuk record top 10 the tastiest fruits in the world, seperti buah durian, manggis, buah nona (srikaya), buah merah, dan rambutan!

Penelitian membuktikan bahwa ada korelasi antara musim buah dengan kesehatan manusia.

Continue reading “5 Manfaat Menakjubkan Konsumsi Buah-Buahan Lokal”

20 Peralatan Tempur Homebirth

Salah satu keuntungan melahirkan di rumah (homebirth) itu gak perlu repot packing hospital bag. Gak perlu nenteng2 segala keperluan ibu, bayi, anak2, dan siapa pun yang menjaga selama proses persalinan di rumkit/klinik. Tapi tetep segala keperluan persalinan rumah harus dipersiapkan jauh2 hari. Nah berikut daftar check list homebirth survival kit ala saya juga rekomendasi para homebirth mommies yg lain πŸ˜„

Continue reading “20 Peralatan Tempur Homebirth”

Balada Flashcards

Flashcards bisa jadi teman belajar yang efektif dan menyenangkan buat anak. Tapi harga flashcards yang lumayan mihil kadang bikin mikir emak2 irit ini πŸ˜ƒ. Bagi yang punya printer memang bisa ngeprint sendiri flascards yang diinginkan. Kalo gak punya ya ngeprint di rental, tapi jasa ngeprint di sini juga mayan ngeruk dompet πŸ˜ƒ. Tapi namanya emak irit gak boleh putus asa ya, apalagi putus asi *eh? πŸ˜ƒ (bawaan sehari2 bau asi ya gini πŸ˜„).

Ayok kita akalin.

Di pasar (toko atk) biasanya kan jual poster belajar untuk anak ( mulai dari mengenal abjad, angka, hijaiyyah, buah2an, sayuran, kendaraan, rambu lalu lintas sampe rumah adat pun ada), per lembar poster biasanya dijual seharga 2 rebu perak πŸ˜‰, dan biasanya terdiri dari 20-30 gambar. Kalo kita gunting per gambarnya, artinya kita bisa dapet 30 pieces flashcards hanya dengan 2 rebu perak, kan? Sampe sini ngerti ya πŸ˜ƒ

Sebelum digunting bagusnya dilaminating ya, biar awet. Dan sebab jasa laminating di tempat photo copy itu juga enggak murah, kenapa gak pake alternatif laminating murah meriah saja? Selotip bening ya? Iya, kamu bener. πŸ˜ƒ

Oia, sebagai emak irit saya juga suka bikin flashcards sendiri jika memungkinkan, misal sewaktu ngajarin ds1 (dear son the 1st) tentang fonem dan gabung bunyi,

Besok kita gunting2 lagi ya, little F 😊

Salam emak IR(i)T πŸ˜„

12 Keuntungan Homebirth

Pertama kali dengar ada tetangga jauh yang melahirkan anak pertamanya di rumah, saya langsung bengong setengah ngebatin, “Melahirkan di rumah? Iiiiiiih, enggak takut resiko ini itu apa?!” Saya ngomong begitu padahal saya baru saja mengalami persalinan pertama yang lumayan traumatis di Rumah Sakit Bersalin 😲 Maklum, waktu itu masih minim pengetahuan serta termakan konsep modernisasi persalinan πŸ˜ƒ

Setelah melewati pemikiran yang panjaaang, banyak baca segala hal tentang persalinan normal minim trauma, baca2 jurnal klinis tentang childbirth, juga sharing dengan homebirth mama, persepsi saya tentang persalinan rumah berbalik 180 derajat. Maka untuk persalinan kedua dan ketiga (dan in syaa Allaah seterusnya), saya mantap bersalin di rumah, dengan dibantu tenaga kesehatan yang sudah sangat berpengalaman membantu persalinan rumahan, alhamdulillah… prosesnya lancar dan memorable, maa syaa Allaah la hawla wa laa quwwata illaa billaah 😊

Continue reading “12 Keuntungan Homebirth”

10 Fakta Unik Bayi

Percaya gak makhluk imut bernama bayi ini punya jumlah tulang lebih banyak dari bapaknya? Lalu, masak iya bayi bisa mengenali suara Ibunya hanya dari satu suku kata? Lah, itu para bayi nangis jejeritan kok gak ada air mata? Masa’ iya? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Bayi yang lucu, menggemaskan itu sepintas seperti makhluk yang paling lemah, tapi tahukah teman2 ternyata bayi lahir ke dunia ini sudah dilengkapi dengan survival design? Yuk simak 10 fakta unik bayi berikut ini:

Continue reading “10 Fakta Unik Bayi”

Maha Besar Allaah yang telah mempergilirkan kelahiran dan kematian pada hamba2 yang dipilihNya. Hanya ada dua pilihan yang keduanya sama2 baik; bersyukur atas nikmat yang datang atau bersabar atas nikmat yang hilang.

Tanggal 10 Januari lalu, embak saya melahirkan putera keduanya, seminggu setelah kepergian mama. Sebelumnya, adik perempuan saya melahirkan anak pertamanya tanggal 11 November ’16, bertepatan dengan tanggal lahir mama, juga seminggu setelah saya melahirkan anak ketiga. Maa syaa Allaah! Bukankah kelahiran dan kematian, perjumpaan dan perpisahan adalah sunnatullah yang senantiasa dipergilirkan? Kedua peristiwa itu memaksa kita untuk kembali merenungkan penciptaan manusia untuk apa ia diciptakan? Semoga kelahiran jiwa2 baru ini bukan sekedar mengisi ruang yang kosong, tapi untuk menambah kecintaan pada yang Maha Menciptakan, Allaah azza wa jalla.

Welcome baby Akhtar!

Melahirkan Saat Masih Bukaan 4 cm, Mungkinkah?

Disclaimer:

Tulisan ini bukan merupakan anjuran medis, ini murni sharing cerita dari pengalaman partus ketiga saya.

Sudah baca Iman’s Birth Story? Di sana saya cerita bagaimana Iman lahir saat pemeriksaan VT yang masih 4 cm! Bagaimana bisa?

Ya, sudah lazim dalam persalinan alami (pervaginam) bahwa bayi baru akan lahir jika pembukaan sudah lengkap (10 cm). Saat itu tubuh Ibu akan merasakan dorongan yang sangat kuat dan panjang sampai ahirnya kepala bayi muncul (crowning) dan terjadilah kelahiran. Namun partus ketiga saya dua bulan lalu, telah memberikan gambaran yang ‘berbeda’ tentang fakta pembukaan jalan lahir (dilation).

Dalam kasus persalinan saya kemarin, saya mengalami fase laten (pembukaan 1-3) kurang lebih selama 8 jam, namun begitu bidan melakukan VT dan ternyata pembukaan 4 cm, hanya dalam hitungan menit saya merasakan kontraksi yang sangat kuat dan nyaris tanpa jeda, juga dorongan mengejan yang tak bisa saya kontrol. Berkali2 bidan mengingatkan untuk jangan ngeden dulu, alihkan dengan tehnik pernafasan.

Saya justru kewalahan dan tersengal. Saya enggak tahu lagi gimana caranya menahan dorongan dari dalam tubuh saya. Yang bikin saya takut adalah bagaimana bisa bukaan 4 cm (bayangkan irisan pisang/cracker) mengeluarkan kepala bayi yang hanya bisa keluar jika diameter jalan lahir sudah sebesar irisan melon atau sebesar bagel?

Continue reading “Melahirkan Saat Masih Bukaan 4 cm, Mungkinkah?”