Kura-kura

image

”Gambar apa itu, Ge?”
”Kura-kura, Mi.”
”Kakinya banyak amat?”
”Biar larinya cepet”

O_o

Advertisements

1650 English Corner

Bismillah,

Sabtu kemarin (27/8), seperti biasa ada sekelompok anak usia SD-SMP belajar Lingua Franca di rumah. Ba’da Ashar mereka sudah berkumpul, mulai saling menyimak hafalan teks pendek yang saya berikan di pertemuan sebelumnya. Teks tentang bagaimana memperkenalkan identitas diri dalam bahasa ‘Enggres’ (kata sebagian orang tua).

Kelas dimulai. Seorang anak laki-laki memimpin do’a. Memimpinnya dalam bahasa Inggris, berdo’anya dalam bahasa Arab 🙂 It’s okay meski masih belepotan ngucapin ‘pray’ jadi ‘spray’ karena saking semangatnya 🙂 Selanjutnya saling menanyakan kabar mereka dan kabar hafalan. 90% alhamdulillaah sudah hafal. Satu per satu maju, dengan teks yang nyaris sama, hanya identitas yang berbeda. Satu hal yang selalu saya ingatkan pada murid-murid luar biasa itu, bahwa ketika mereka memperkenalkan diri, jangan malu untuk menunjukkan identitas mereka sebagai seorang muslim. Dan, satu per satu dari mereka tak ada yang ketinggalan menyebutkan, ”I am a muslim and very proud, alhamdulillaah”.

Ya Rabbi, mengajarkan mereka untuk bisa dan biasa mengucapkan itu rasanya bagai menemukan Oase di tengah sahara. Rasa yang sama saya rasakan seperti saat beberapa murid yang terbiasa mengejek (membully) teman-temannya mulai mengurangi kebiasaan buruk itu. Bahkan mereka spontan menepuk mulut mereka sendiri saat sengaja atau tidak mereka kembali membully, sembari beristighfar dan meminta ma’af pada temannya itu. Karena di awal, mereka sudah menyepakati peraturan bahwa tidak ada yang boleh saling bully, sebagai konsekuensinya, mereka harus beristighfar dan meminta ma’af. Maka sekarang, di pertemuan kesekian kalinya, tak lagi gaduh terdengar laporan ada yang sedang membully. Kalau sebelum ini, saya sering dengar murid saya laporan,” Miss. Nabil ngebully lagi, aku dikatain item.” Atau ada juga laporan karena diejek ‘kiting-lah, jelangkung-lah’, dan sampai level ‘mata loe, palak loe, bapak loe sukijan, kampret’ etc. Segala verbal bully yang menyedihkan, karena semakin merendahkan kepercayaan diri yang dibully. Karena saya termasuk yang setuju bahwa tidak ada yang boleh menghina diri kita, maka saya ajarkan mereka untuk melindungi harga diri mereka, melawan tanpa ikutan membully. ”Waduh, kayaknya kamu gak tahu ya, bedanya warna arang sama kulit sawo? Eh, ngomong-ngomong, kamu sama aja ngebully Allah loh, kan aku ciptaan Allah. Mau warna kulitku kayak apa ya terserah Allaah, mau tinggiku kayak tiang listrik kata kamu, yah, itu sih urusan kamu sama Allaah.” etc.

Begitulah, kelas saya tak banyak mengupas detail lingua franca, karena yang lebih mereka butuhkan sekarang adalah manner, so, matter comes later. Maka saya tak begitu ambil pusing saat murid saya menuliskan ‘grandfather’ dengan ‘ger pader’ 😀 coz they’ll soon know how to write ‘grandfather’ correctly, insyaAllah.

Barakallahu fikum, learners!

– A Prologue –

image

😀 My pader and my sirter visited my ger pader and my angkel.

Hospital Visit

Beberapa minggu yang lalu, Gege ikut nemenin nenek kontrol di RS. Antrian pasien Poli lumayan padat, makanya lama banget nunggu giliran dipanggilnya, apalagi harus cek darah tiap kali kontrol. Setengah jam pertama Gege masih nicely behave. Setengah jam berikutnya mulai terlihat bete 😦 Mulai jenuh dengan suasana poliklinik yang menjemukan. Berbagai pertanyaan pun sudah dilontarkan, seperti, ”Mi, lihat (sambil menunjuk pasien anak luka bakar), kasihannyaaa. Dia sakit ya, Mi?” Jawab saya, ”Iya bang. Kakak itu kena ledakan mercon pas dia main mercon. Kulitnya kebakar, sakit bang. Kasihan ya. Alhamdulillaah Gege gak suka main mercon, kan? :-)” Terus dijawab,”Iya Mi. Bahaya dong!” 🙂 Pertanyaan selanjutnya seperti, ”ini apa, mi? Ini bacanya apa? Ini angka 4, kan?” etc.

Kembali dia teringat sedang bete. Amunisi beberapa snacks yang dibawa juga sudah menipis, sedangkan antrian masih seperti satu bis 😀 Bosan bermain lari-lari, Gege ngubek-ngubek isi tas saya. Sebelumnya dia merengek kegerahan, mau lepas baju. Saya bilang nanti di rumah baru boleh, tapi tanda2 mau tantrum nyaris saja. Ya, udah sebentar aja, ya, nanti dipake lagi, oke deal. Dari dalam tas Gege menemukan pena, dan saya baru teringat lupa membawa buku coret2, atau kertas. Jadilah, sisa fc surat kontrol jadi sasaran ;D

image

Kata Gege ini gelombang air

Alhamdulillaah tiba giliran nenek diperiksa pakdok. Setelah menunggu cukup lama untuk antrian obat di apotek, Gege kembali gak sabar dan setengah merengek minta pulang. Tangan saya ditarik-tariknya, ”ayo, Mi. Pulaaaaang” teatrikal pokoknya, ditonton puluhan pasang mata. Sedangkan mata saya sibuk mencari objek pengalihan ‘kejenuhan’ Gege. Thanks to a flying insect, gak tahu namanya apa, yang jelas masih satu famili dgn butterfly. Si insect yang nempel di pintu geser ruang rontgen, tak bergeming saat saya tanya ini itu, haha. Berhasil, Gege begitu antusias dan selanjutnya mengamati insect yang nemplok tak bergeming.

Yuk, pulang, bye insecy! 🙂