Suluten

Belum hilang bekas sakit campak kemarin, Fathan terserang suluten. Suluten/suleten itu dari bahasa Jawa, kalau istilah medisnya impetigo. Kalau orang awam biasa mengenalnya dengan istilah cacar api atau cacar monyet (monkeypox). Kalau orang Jawa…. BACK to Suluten! hehe.

Awalnya muncul ruam kemerahan di sekitar area ketiak, lalu membentuk bintil berair selebar sekitar 1-2 cm. Terus gak lama printilan itu pecah, dan menyisakan luka lepuh seperti tersulut rokok/api. Besoknya beberapa printilan muncul lagi, dan cairannya cepat sekali pecah, jika tidak ditangani, maka bisa menular ke seluruh tubuh. Alhamdulillaah ‘ala kullihal, it could be worse, suluten Fathan berhenti di area ketiak saja. Anyway, karena bekas pecahan airnya seperti luka tersulut api/terbakar, makanya itu orang Jawa kasih nama suluten, :p sulut+en. Nama cacar api juga mungkin karena bekas pecahnya melepuh seperti kena api. Okay, confirmed :d Sayangnya sebagian masyarakat (khususnya Jawa) masih suka percaya mitos bahwa suluten itu muncul karena ada pakaian bayi yang terbakar, makanya si bayi ikut ngerasain tersulut (suluten). Hehe, 100% MITOS yak!

FAKTAnya, suluten (impetigo) ini terjadi karena infeksi dari bakteri yang masuk lewat celah luka pada kulit., atau karena kontak sentuhan dengan orang yang terserang impetigo duluan (karena memang impetigo ini sangat menular).  Penyebabnya adalah bakteri Staphylococcuc aureus dan Streptococcus. Beberapa jenis impetigo bisa dilihat pada link berikut. Nah, yang diderita Fathan adalah jenis bullous impetigo yang banyak menyerang anak di bawah 2 tahun, tidak bernanah, melainkan bintil berisi cairan saja, dan sepertinya tidak gatal. Secara alami impetigo akan mengering dan sembuh dengan sendirinya, tergantung imun tubuh. Pengobatan tradisional untuk impetigo bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti: kompres air hangat pada area kulit yang terinfeksi, balur dengan ampas bawang putih yang telah dicampur minyak wijen, dengan minyak zaitun plus minyak pohon teh, atau dengan membalurkan daging lidah buaya selama kurang lebih 20 menit. Salep antibiotik juga penting untuk mempercepat penyembuhan luka. Jangan lupa IMUN! ImunIsASI! Gempur ASI!

Syafakallah honey bunch!

13646821_10207232383504209_2025195071_o

Advertisements

Hujan yang tak Dirindukan

Sebuah antena’ anti hujan nancep dengan pedenya di pekarangan salah satu tetangga yang akan menggelar syukuran kelahiran bayi. Merahnya cabe begitu mencolok, ditambah bawang merah putih tertancap tak berdaya demi memenuhi keinginan tuan rumah yang tak ingin hujan turun.

Semua orang sudah mengerti. Praktek klenik ini juga sudah berlangsung sejak zaman jahiliyah. Konon orang Arab Jahiliyah percaya kepada sesuatu yang dinamakan “Nau” yang dapat menurunkan hujan bukan Tuhan. Nau adalah bentuk ramalan benda-benda langit yang diyakini dapat menurunkan hujan. .
Di sini kita mengenal manusia pawang hujan, yang mengaku bisa mengusir hujan, memindahkannya, atau minimal menahannya agar tak tumpah. Katanya semakin kuat tenaga dalam (bioenergi) yang dimiliki pawang, memungkinkan pawang bekerja dari jarak jauh, dari luar kota misalnya. Katanya jauh2 hari sebelum perhelatan dimulai, pawang melakukan survey di lingkungan tempat tinggal yang punya hajat, bermaksud untuk membaca arah angin dan khususnya untuk berkenalan dengan penguasa gaib di sana dan ngajakin kolaborasi. Menurut referensi, ada penguasa gaib untuk unsur2 tertentu. Mungkin sejenis Avatar kali ya (haha) yang bisa mengendalikan air, angin, api. Nah si pawang ini akan duet dengan penguasa air dan angin. Setelah itu dia mulai bekerja memanipulasi muatan elektron yang ada pada awan, dan dengan kekuatan bioenergi akan memainkan medan magnet awan (telekinesis) sehingga dia bisa mendorong, memindahkan, menahan, bahkan menurunkan/menyedot (menjadi hujan), atau sekedar mendatangkan awan dari daerah lain (menjadi mendung/teduh). Selain bioenergi, pawang juga menggunakan tenaga batin, seperti rapalan mantera, apalagi jika diperkuat dengan lelaku prihatin macam puasa, mutih, ngableng, pati geni, nglowong, dan lain-lain.** Ada juga yang memakai jasa khodam, dengan menancapkan cabe dan bawang.

Sebenarnya orang2 itu sudah mengerti, bahwa mempercayakan pawang hujan haram hukumnya bagi Muslim. Terkadang saking menuruti tetua, mereka menggadaikan iman, berlaku syirik, lebih mempercayai ada kekuatan lain selain kekuatan Allaah. Naudzubillah tsumma naudzubillah.

Yang tak kalah pentingnya dibahas adalah bukan tentang pawangnya, atau para customernya, melainkan para komentatornya. Jika mereka sudah jelas dihukumi kufur akbar, maka bagaimana dengan para penonton yang hobinya berkomentar? Janganlah berkomentar, “Kalau ada hajatan pasti lah gak akan turun hujan” atau komentar sebaliknya, “Kok hujan sih? Pasti pawangnya kurang hebat”, dll. Innalillahi. Bukankah komentar spontan itu menunjukkan pengakuan kita pada kekuatan pawang? #think

Gak usah deh, jangan sekali2 pakai jasa pawang jika hujan sedang tak kita rindukan. Cukup dengan do’a seperti yang telah diajarkan Rasulullah sallallahualaihi wa salam, . “Konon kami tidak melihat gumpalan awan antara kami dan sela-sela gunung Sal’a dan tidak nampak pula awan diatas rumah kami. Tiba-tiba datang gumpalan awan seperti perisai, maka tatkala gumpalan awan tersebut menyebar menutupi sebagian langit maka turunlah hujan. Demi Allah pada hari sabtu kami tidak melihat matahari, kemudian datang seorang pada hari jumat berikutnya untuk menemui Nabi. Tatkala itu Nabi sedang berkhutbah, orang itu mengadu kepada Nabi :” Ya Rasululloh binasalah harta kami dan terputuslah jalan-jalan kami “.Nabi bersabda : ” Memohonlah kamu kepada Allah karena hanya Dialah yang dapat menolak hujan, kemudian Nabi mengangkat kedua tanganNya sambil berdo a: ” Ya Allah jadikanlah hujan ini pindah pada sekitar kami jangan jadikan hujan ini untuk kami. Ya Allah pindahkanlah hujan ini diatas gunung, bukit yang lembab, lembah gunung atau tempat tumbuhnya pohon (hutan )”. (HR.Bukhari-Muslim).

Do make du’a. Berdoalah jika memang hujan sedang tak kita rindukan. Berdo’alah dan bertawakal padaNya. Jangan malah menantangNya. Ittaqillah!

#selfreminder
#pawanghujan

*image credit here

Gigi dan Gabag

Sudah dua hari ini Fathan lagi kena demam yang mengiringi dua hal; tumbuh gigi dan gabag (campak).

Ini tumbuh gigi perdana, alias gigi susu loh, Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat. Ahirnya setelah sabar menunggu hingga Fathan 13 bulan, central incisor-nya numbuh menembus gusi. Sakiiiit ya, nak?! It’s okay, tahan sedikit ya, enjoy the fever, insyaAllaah it’ll end tomorrow. Kenapa ya sampai tumbuhnya delay se-lama ini? Sempat khawatir juga, soalnya Gege mulai tumbuh gigi di usia 6 bulan, saat usianya satu tahun bahkan jumlah giginya sudah 8, dan tanpa diiringi demam, masyaAllaah. Setelah browsing, ternyata ada beberapa penyebab lamanya gigi susu tumbuh pada bayi, seperti: faktor genetik, kekurangan kalsium dan vit. D, hipotiroidisme, atau karena kurang gizi.  Menurut dr. Dean Brandon, spesialis gigi anak dari Alabama Pediatric Dental Associates and Orthodontics, Amerika Serikat, salah satu penyebab lamanya gigi susu tumbuh adalah asupan kalsium saat hamil. Saya teringat ketika hamil Fathan, selama trimester pertama kehamilan, saya mengalami sakit gigi sepanjang 4 bulan pertama. Bisa jadi janin Fathan pun mengalami kesulitan dalam penyerapan kalsium. Etapi, belum tentu juga bumil yang mengonsumsi kalsium lebih banyak akan melahirkan bayi dengan pertumbuhan gigi yang lebih cepat. Hal ini dikarenakan daya serap kalsium pada bayi berbeda-beda. Alhamdulilaah, stay strong Fathan for your newly central incisor 😀

Selain karena mengiringi proses kemunculan gigi perdana :), demam ini juga mengiringi sakit gabag alias Campak/Morbilli/Rubeola/Measles. Alhamdulillaah ‘ala kulli hal. Tetap bersyukur dalam kondisi apapun, ya nak. Beberapa saat yang lalu (H+3 Lebaran), Gege sudah kena campak duluan, tapi Fathan sama sekali gak tertular, padahal mereka berdua nempel terus kayak perangko yang dilaminating, hehe. Sekarang, your turn honey bunch ❤ stay strong ❤ Those pinky red skin rashes will fade away soon enough 🙂 Ruam pink yang bergerombol, cepatlah keluar semua, dan pergilah sana sejauh2-nya. Penanganan-nya insyaAllaah pakai home treatment aja, karena penyebab Campak/Gabag/Morbilli/Rubeola/Measles adalah virus (self-limiting disease/dapat sembuh sendiri), maka kesembuhan sangat tergantung pada daya tahan tubuh, insyaAllaah madu plus gempuran ASI plus MPASI gizi seimbang dan tentu saja atas izin Allaah 🙂 “Faidzaa maridhtu fahuwa yasyfiin/ Allaah yang kasih sakit, Allaah juga yang sembuhkan”

Semoga lekas sembuh ya, nak! Ummi kangen cerianya Fathan! 🙂