Close T

Saya dibuat kaget oleh foto yang ditunjukkan zaujy kemarin jam 03.00 WSB (waktu sahur bagian barat). Foto yang lagi viral, tentang cafe jamban. Saya spontan mau muntah, merasa sangat jijik. Kok bisa, jamban yang fungsinya untuk istinja’, malah dipakai untuk wadah makanan manusia? Bagaimana mungkin terfikirkan ide konyol macam itu? Bahkan penggagasnya seorang dokter? Heh?

Lalu, snapshot yang menunjukkan beberapa penikmat cafe jamban adalah muslimah (berhijab), maksudnya gimana? Bersertifikasi halal, gitu? Atau memang sengaja dibuat seolah2 muslim suka yang begitu? Aaaaagh, media deception 😦

Tampaknya kasus cafe jamban ini episode lain dari rangkaian fitnah thd ummat islam, setelah kasus warteg-nya bu saeni ditutup. La hawla wa laa quwwata illaabillah…

Anyway, ngebahas kata j*mb*n saja sudah cukup bikin kita muntah2, apalagi menggabungkannya dengan makanan yang kita santap. Iiiih. Serendah itukah selera orang2 yang mengaku anti-mainstream? Sedangkan makan menggunakan tangan kiri saja dilarang dalam Islam… Orang2 kita mah memang suka nyeleneh. Demi mencari pasar yang potensial, menghalalkan segala cara. Plus, misi terselubung yang dimainkan para hipokrit zindiq, agar kita semakin jauh dari sunnah.

Mudah2an Allaah selalu memberikan kewarasan pada kita untuk tidak ikut2an mengapresiasi hal2 nyeleneh begitu.

Ngeluh?!

Bagi yang puasaya manja (bukan kasus warteg ya), mari berfikir ulang untuk ngeluh. Baik ngeluh karena hari yang panas yang bikin tambah haus, ngeluh karena lemes, laper, baper…

Sementara itu…

Mukmin di belahan bumi bagian atas, berpuasa lebih lama dari kita yang hanya perlu menahan lapar selama 13 jam. Rotasi bumi yang menyebabkan perbedaan waktu, menyebabkan beberapa teman muslim kita harus menahan lapar, haus, nafsunya selama 15 jam, 17 jam, bahkan di negara Skandinavia yang waktu siangnya lebihhh lama, mereka berpuasa selama 22 jam, masyaAllaah!

Sementara itu pula….

Saudara-saudara yang tinggal di tengah-tengah penindasan oleh zionis, yang bahkan tak memiliki makanan untuk berbuka, mereka tetap berpuasa, lillaah.

Atau…

Lihatlah di sekitar kita, berapa banyak kaum marginal, faqir miskin, yatim piatu…yang berpuasa lebih dari sekedar satu bulan, mereka berpuasa nyaris setiap hari karena ketiadaan makanan…

Masihkah kita mengeluh?

*Note to self

Antri Urap

Siang ini saya mencoba belanja makanan siap saji untuk iftar. Jam setengah dua siang dapur si teteh penjual masih ngebul, alias masakan belum siap. Etapi yang antri udah banyak, termasuk saya, hehe. Sebenarnya itu kali pertamanya saya beli di warteg si teteh sih (bukan wartegnya te2h Saeni ya, ehehe), jadi agak syok begitu melihat banyaknya bu-ibu yang sudah rela menunggu lama, alhamdulillah. Niat saya cuman mau beli urap, iya, urap. Sebagai busui, tiap ngeliat yang ijo-ijo rasanya kepingin ngelahap, hap, hap… warna ijonya begitu menggoda, kayak sapi kelaparan yang melihat padang rumput segar, hehe. Sementara menunggu masakan siap, saya pergi ke minimarket tak jauh dari warteg, mau beli gula pasir heula 🙂 Pas kembali, bu-ibu tadi, yang jumlahnya sudah tiga kali lipatnya, mengerumuni si teteh, macam rombongan semut mengerumuni satu drop air gula . Fyuuuh.

Saya ikut mengantri dong, tapi gak ikut berdesak-desakan. Makin lama bukannya makin dekat dengan si teteh, malah makin tersingkir. Ah, sebel, pada main serobot, biasa orang Indonesia susah kalo harus antri rapi, ckckck. Bukan cuma main serobot, tapi juga berisik banget, “Teh aku sayur tahunya, terus pepes ikan juga. Aku duluin teh!” Suara di sampingnya gak mau kalah, “Aku sayur kacangnya teh, lima ribu aja.” Suara lainnya, “Loh, kan aku duluan tadi, gimana sih Bu, aku duluan dong teh, sayur nangka ama pepes.” Ada yang nyolot dari barisan belakang, sambil melotot, “Kikim mbak, kikim (Langpungnese: sayur daun singkong) !” katanya memarahi mbak asisten si teteh. Si mbak menimpali sambil menahan kesel, “Sabar bu, ini saya lagi melayani ibu ini.” Si teteh mulai kesal, “Sabaaaar ibu-ibu! Jangan pada ribut dong! Tuh, saya sampe gak tahu ada yang gak bayar pepes. Saya keilangan pepes 4. Tuti, kamu liat gak ada yang gak bayar…” Kata Tuti si asisten, “Jangan-jangan mbak2 yang pake baju dinas tadi, saya liat dia bungkus2 sendiri pas kita lagi sibuk nyiapin dagangan tadi. Kayakya dia belum bayar deh…” dan orang yang dimaksud pun sudah tidak ada. Hening.

Beberapa saat kemudian adegan dimulai lagi dari awal. Kali ini ditambahi ucapan simpati dari bu-ibu atas pepes yang digondol maling. Ikhlas ya teh…

. Saya mau balik kanan saja terus pulang, gak tahan dengan antrian yang acakadul. Tapi demi kepingin banget makan urap, maka saya tahan langkah ini barang sebentar lai, toh hampir giliran saya setelah beberapa kali tersingkir, hehe. Maka, saat giliran saya tiba, urap pun pas habis. T_T Ikhlaaas self, ikhlas… T_T