Duo Kece Di Balik Topi Sarjana

13140633_10206680762834037_1789814488_n

”Duo kece badai yang masing2 punya cerita perjuangan untuk sebuah topi sarjana”

Tanggal 27 Mei setahun yang lalu, ahirnya saya bisa  mengikuti prosesi upacara wisuda setelah hampir tujuh tahun lamanya menjadi mahasiswa. Dengan babybump di balik baju toga, saya maju untuk serah terima ijazah. Ada yang menendang perut saya dari dalam; sedikit meringis dong saya, hehe. Alhamdulillaah legaaa rasanya, seperti terlepas dari simpul mati yang mengikat diri, saya patut bersyukur untuk setiap nikmat dan kemudahan yang membersamai kesulitan.

Terhitung September ’08 saya terdaftar sebagai mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di sebuah universitas negeri di Provinsi Lampung. Hal yang sangat saya syukuri bias lolos seleksi SNMPTN, apalagi saya tidak mempersiapkan plan B jika saja Allaah tidak berkehendak saya lolos. Tahun pertama berjalan dengan baik, alhamdulillaah ritme campus life saya tidak seperti mahasiswa kupu-kupu yang melulu kuliah-pulang kuliah pulang; tapi saya mencari kesibukan dengan mengikuti organisasi, baik tingkat fakultas ataupun tingkat universitas. Kata temen2 satu kos, saya telah menjadi mahasiswa angkatan ’76; berangkat jam 7 (pagi), pulang jam 6 (sore) hehe. Saat itu saya juga mencoba peruntungan beasiswa ke luar negeri meski dengan resiko cuti kuliah. Maka qodarullah, memasuki awal tahun ketiga, saya mendapatkan beasiswa pertukaran mahasiswa ke Amerika Serikat selama 2 semester + summer course. 10 bulan kemudian saya kembali ke tanah air dan melanjutkan mengulang semester yang tertinggal, sekaligus kembali berorganisasi. Sepulangnya dari LN, saat itu Mei 2011, saya terpilih menjadi presiden  ukm-u yang saya ikuti. Ahirnya fokus hanya kuliah dan organisasi. Di tahun yang sama, saya mengambil sebuah keputusan besar yang mengejutkan semua orang, termasuk saya sendiri… I got married! J Saya memutuskan untuk menikah, padahal masih kuliah, padahal masih muda (katanyah). Orang tua setuju, asal saya bertanggung jawab penuh terhadap keputusan menikah sambil kuliah. Setelah mempelajari Terms and Conditions-nya, saya mantap untuk maju, insyaAllaah.

Dua bulan menikah saya mulai mengandung. Saat itu saya masih harus mengisi krs semester 5, padahal semester saya tetap tertulis semester 7 (sebab cuti 2 semester). Hamil muda dengan segala kesibukan; domestik, kuliah, organisasi, membuat saya seringkali overwhelming. Yang terahir ini yang bikin saya ‘feel so bad’ sampai sekarang. Karena kondisi fisik saya yang sering lemah, apalagi selama trimester pertama kehamilan, sehingga membuat urusan organisasi seringkali keteteran; dan alhamdulillaah-nya punya jajaran boards yang… luar biasa! Segala-galanya, mereka sudah banyak sekali menutupi ketimpangan-ketimpangan selama saya memimpin. I was really a bad leader, and you guys are awesome! Tons of thanks J

Menyandang status bumil di tengah perkuliahan yang padat sungguh berat. Perubahan hormonal menyebabkan saya sedikit stress; morning sickness, mual, kurang darah, dll. Beruntung lokasi kontrakan dekat dengan kampus, jadi tidak perlu waktu lama naik angkot untuk segera sampai kampus. Bukannya apa-apa, saya suka sebel sama supir angkot yang nyupirnya kenceng-kenceng, diiringi musik remix yang bikin kuping saya berasap (saking geramnya). Belum lagi mereka suka main hajar aja tuh polisi tidur, yang membuat saya melindungi perut dari guncangan. Baiklah  kita tinggalkan angkot derita ya, mari masuk kelas, dosen sudah menunggu. Karena mengulang, saya jadi satu kelas dengan angkatan ’09. Alhamdulillah, diberikan teman-teman yang super baek dan supportive, yang siaga kapan pun saya merasa lelah, hehe. Saya sih tidak pernah ngomong ke dosen2 kalau saya sedang hamil, tapi pastilah mereka tahu dengan sendirinya J pun mereka tidak pernah bertanya langsung apakah saya sedang berbadan dua, hehe.

Untuk perkuliahan yang luar biasa padat, saya sebisa mungkin minim izin :D, kecuali pas lagi bener-bener teler. Jangankan buat baca materi literature yang setiap halamannya gak ada gambarnya :D, buat membalik halaman buku saja rasanya awak indak kuat J Alhamdulillaah, selama 9 bulan mengandung, 2 semester mampu dilewati dengan baik, IPK juga masih di atas 3.6. Semua itu juga berkat teman-teman sekelas (angkatan ’09) yang sangat kompak, plus pengertian, hehe. Juga berkat dukungan suami tentunya, dalam segala hal. 🙂 Selama hamil itu (dan selalu insyaAllaah), saya brusaha sebaik-baiknya agar saya selalu berkata dan bersikap yang baik-baik saja, termasuk tidak boleh sama sekali tergoda untuk ‘mencontek’ ketika mid atau final exam, selain karena curang (and Allaah hates that), juga karena saya kan sedang berbadan dua, 🙂 so, behave and be honest, ya!

Menjelang kelahiran debay, alhamdulillaah perkuliahan semester 8 sudah berahir. Artinya ada beberapa bulan merah untuk rehat dari rutinitas kampus, kecuali bagi mereka yang ambil semester pendek. Artinya juga, saya bisa fokus mengurus bayi untuk beberapa bulan ke depan, tanpa ambil cuti akademik. Ops, bahkan saya lupa kalau pihak kampus melarang saya ambil cuti, meskipun dengan alasan cuti melahirkan :D, karena jatah cuti saya sudah saya habiskan untuk ikutan program exchange itu. Sekali lagi ya Allaah, thank Youuu for this blessing, I delivered a newborn in the right time 🙂

Lalu, bayi mungil yang terlahir menjelang tarawih pertama 1433 Hijriah itu kami beri nama Ghozi Al Ghifari 🙂 Diusianya yang ke-2 bulan, Gege sudah harus rela ditinggal-tinggal Ibunya yang masih sekolah. Alhamdulillaah, semester 9 tidak banyak yang harus diselesaikan, tinggal beberapa mata kuliah saja. Saya pun bisa menghilang ke kampus sebentar, meninggalkan Gozi yang masih ASI eksklusif, bersama neneknya, atau abinya jika sedang luang. Begitu seterusnya, sampai saya menyelesaikan semester 9 dengan lumayan baik 🙂 Semester berikutnya-lah yang membuat saya galau, sebab saya wajib ambil mata kuliah KKN + PPL. Kalian tahu apa artinya? Ya, pengabdian masyarakat, remote area, dan semua kisah di dalamnya, sedikit banyak membuat saya khawatir, sebab saya akan ke sana bersama seorang bayi; siapa yang akan mengurusnya? Bagaimana tanggapan teman-teman nantinya? Would they accept me? Etc. Pada ahirnya saya selalu yakin di setiap kesulitan, ada kemudahan. Saya bersyukuuuur sekali Allaah kirim teman-teman yang luar biasa untuk berbagi kisah seru dan haru selama berada di perantauan. Oya, tentang mereka, juga tentang sulitnya membesarkan bayi sekaligus mengajar dan berkegiatan di masyarakat pedalaman, pernah saya tuliskan di sini.

 

Camera 360

KKN PPL Ghozi

Kemudian, masuklah saya ke-semester 11, jelang tahun ke-6. Kartu rencana studi (krs) saya tinggal terisi 3 mata kuliah; semprop, semhas, skripsi.  FYI, saya sudah mengajukan usulan judul sejak masuk semester 7, dan sudah disetujui oleh Kaprodi. Hanya sajaaaa, saya masih suka galau ganti-ganti judul. Sudah beberapa kali bimbingan juga, tapi kandas di pengkolan, tak bisa tahan godaan. Apalagi bisnis ‘side-job’ yang sudah saya mulai sejak semester 9 semakin laris manis, hehe. Fokus saya seringkali terbagi-bagi, skripsi malang saya tinggalkan begitu saja, sementara saya sibuk dengan branding jasa terjemah. Masuk semester 12, saya mulai sadar, kembali termangu mengingat skripsi malang yang teronggok dan berdebu, hehe. Maka saya niatkan untuk tidak menerima order terjemah sampai skripsi saya kelar. Saya mulai bimbingan lagi. Beberapa kali sampai ahirnya ACC untuk semprop. 24 April 2014, saya seminar proposal. Komentar dosen pembimbing bikin saya terharu biru, hehe. Katanya ahirnya seminar; congratulations! tapi perjuangan masih panjang. Seratus persen anda benar, Prof. J semprop mah, ibarat kita  lari 100 meter, kita masih ancang-ancang di garis start. Nah, bukannya mulai berlari kencang untuk sampai di garis finish secepat mungkin, saya malah tergoda dengan aroma sate kambing dari street food di luar track lari, hingga menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menikmatinya. Belum lagi tali sepatu saya yang seringkali terurai, juga kaki yang tersandung batu, padahal saya larinya pakai mode slow motion. Leleeet banget, ibaratnya saat para kompetitor sudah menapak garis finish, saya masih terseok di 10 meter pertama. Kurang lebih begitulah, hehe.

gge

ikutan kampus

Saya seringkali lost, hilang fokus. Kesibukan seorang Ibu muda dengan batita yang sedang lincah-lincahnya, membuat saya  kelelahan sehingga tak ingin berfikir yang berat-berat dulu, hehe. Maka, saat waktu senggang ada, saya malah memanfaatkannya, eh menghabiskannya untuk berselancar di media social, membuat handmade, atau mencoba resep masakan. Di mana draft skripsi? Ada J Ia sedang tidur siang sebentar. Apalagi beberapa waktu setelah seminar proposal, ibu mertua di kampung jatuh sakit, sehingga saya pun harus mengurus beliau sampai bena-benar pulih. Kurang lebih empat bulan saya hiatus, sampai –sampai lupa dengan nasib skripsweet yang sudah lama tak disentuh. Kemudian saya kumpulkan sisa-sisa semangat, kembali menyapa angka 13 (n=jumlah semester) yang tertulis di kartu rencana studi. Saya mulai merencanakan penelitian untuk skripsi saya. Setelah sempat melakukan penelitian di sebuah SMP, saya kembali hiatus beberapa minggu. Bingung dengan hasil yang jauh dari gambaran awal. Padahal semua itu sudah cukup menguras tenaga dan fikiran. Hm, untuk mengobati kegundahan itu, saya malah menciptakan sebuah puisi yang mewakili kegundahan hati, hehe, tentang kapan wisuda. Gak cukup dengan mencipakan puisi, saya pun sempat-sempatnya ngikut lomba blog tentang kesulitan dalam dunia tulis menulis. Ini dia karya saya, tentang writer’s block dalam menyusun skripsi, yang sebenarnya sangat mewakili apa yang saya rasakan, hiks!

Ada titik balik yang MEMAKSA saya untuk kembali ke jalan yang semestinya 🙂 yakni ketika saya mengetahui tengah hamil kembali untuk kedua kalinya. Wait! MasyaAllaah hey pregnant young lady, another blessing to come, but your time is almost due; get it done asap! 🙂 Di satu sisi bersyukur karena Allaah berikan kehamilan ini; namun di sisi lain, galau berat, baper sangat 😀 Gimana dengan skripsku?! Akankah berahir Dropout?

Dus, tekad harus dibulatkan seperti ikat kepala yang wajib dikencangkan. Saya sudah berazzam, berikrar akan menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Waktu saya tak lagi banyak secara sudah di penghujung semester ahir.  Satu lagi, saya tidak mau sampai kena dropout, saya gak mau suami dan anak-anak saya berfikiran merekalah penghalang saya meraih mimpi. Justru saya kepingin tunjukkan ke anak-anak, bahwa merekalah inspirasi saya untuk kembali semangat mencapai apa yang sedang diperjuangkan. Bismillah, saya mulai menghadap dosbing untuk bimbingan penelitian. Semangat saya sedang berada di level 9, namun saya tidak berdaya saat kondisi fisik saya melemah di trimester pertama kehamilan kedua ini. Perubahan hormon yang drastis dan bala tentaranya membuat imun saya melemah. I couldn’t think, so how could I handle my thesis? L Selama hampir tiga bulan saya bedrest karena tidak kuasa melawan lemahnya kondisi tubuh. Masuk trimester kedua imun saya membaik, saya mulai kuat dan semangat saya kembali. Saya kejar-kejaran dengan revisi. Belajar statistika dari nol untuk olah data. Mikir dan dzikir jadi andalan. Kadangkala lelah sebelum mulai berfikir. Belum lagi anak sulung saya super agresif, sleep routine nya yang di atas jam 11 malam membuat saya seringkali ‘skip’ dari ngerevisi skripsi. Namun saya tetap berusaha konsisten kali ini, saya pasang kacamata kuda untuk hal2 yang bisa saja membuat saya kembali menduakan skripsi, *halah! :p

Hampir tiap hari ke kampus, dengan babybump yang semakin kelihatan buncit, jalan pun jadi rada susah, cepet capek, apalagi kalo harus naik turun tangga 😦 Seringkali si perut buncit pun jadi kram, tegang, karena capek. Kalau sudah begitu saya milih istirahat  sejenak, walau kadang hanya selonjoran dulu di mushola kampus. Sebenarnya masih ada beberapa orang lagi teman2 seangkatan yang juga masih terseok dengan urusan skripsi yang bikin sensitif ini, hehe. Saya juga sudah saking seringnya ngajakin bareng, sama2 menyelesaikan skripsi; tapi ya gitu, hanya satu dua yang bisa diajak berjuang bareng. 🙂 ya udah, keep fighting aja dulu, terus tawakal, simple as that!

Tanggal 18 Maret seminar hasil, lalu ngejer biar bisa sidang kompre secepatnya. Sembari bimbingan tiap hari, sembari melengkapi syarat2 kompre, yang masyaAllaah bikin puyeng kalo banyak sangkutan; ada sangkutan buku di perpus, struk spp gak lengkap, ada makul yang nilainya gak muncul di transkrip, dll. Ya Allaah, please help! Alhamdulillaah, suami ikut bantu ngurus juga, temen seperjuangan juga (thanks utk deva & miftah, hehe), ahirnya tanggal 25 April bisa kompre. Alhamdulilah. Lega. Lega. Lega J

Perjuangan belum usai, saya kembali pontang-panting melengkapi persyaratan wisuda. Untunglah banyak yang baik hati membantu bumil ini, hehe. Hingga ahirnya terdaftar untuk mengikuti prosesi wisuda tanggal 27 Mei 2015. Segala puji milik Allaah. Terima kasih setulus2nya untuk semua pihak, It means a lot me. Semoga Ilmu ini bisa bermanfa’at untuk semua, aamiin.

*20 hari usai wisuda, babybump lahir. Good job, Fathan 🙂

With Love,

Mei

wpid-img_20150528_1311343-1.jpg.jpeg

with zauj, Ghozi, n babybump Fathan

Advertisements