#ThatLatePostAgain

While Abang is busy with gardening stuff, Fathan is also busy with the discovery box O_o

image

image

image

Advertisements

Belajar Mencintai (sayuran) dengan Dramatic Play

#LatePost

Beberapa hari ini alhamdulillaah Abang Ghozi mulai belajar (lagi) mencintai sayuran. Sayur apa saja yang dihidangkan di atas meja. Sayur yang dibelinya di pasar tradisional bersama ummi. Sayur yang tadinya selalu ditolaknya mentah-mentah 😀

Ahirnya ummi bisa tersenyum lebaaar kali ini melihat lahapnya Abang Ghozi makan sayur bening bayam 🙂 bahkan minta tambah lagi sayur bayamnya! Fhuuuuuh *alhamdulillaah

Jika harus mereview menu sehari-hari Ghozi (Gege) selama ini pasca MPASI memang kurang berimbang asupan antara vitamin dan protein-nya. Sewaktu masih MPASI, sewaktu Gege masih sangat penurut dan bisa dikontrol menunya, sayur apa saja akan dimakan, e.g. sayur sop, brokoli, bayam, kacang, sayur asem… Beranjak lebih besar, menjadilah dy seorang ‘picky eater’ maunya makan protein hewani melulu, dan itu-itu saja, e.g. lele goreng, ayam goreng, pindang ikan, dan gulai ayam. Gege sendiri seolah sudah deadlock dengan yang namanya ikan lele, he’s that ‘lele monster’ *ups. Untuk mensiasatinya, namun sangat jarang saya lakukan, ya paling bikin nugget lele campur sayur. Karena seringnya makan yang protein hewani, Gege mengidap kelebihan protein, jadinya suka muncul bintitan diujung kelopak matanya. Kalau sudah begitu, I feel so bad, I feel Iike I’m not a good mother 😦

Sekarang…

Paling tidak saya sudah menemukan satu cara ampuh insyaAllaah untuk mempengaruhi alam bawah sadarnya bahwa makan sayur itu ‘seenak makan ikan’, plus menyehatkan 🙂

Yaitu dengan #DramaticPlay 😀

Biasa juga disebut pretending atau imaginative play. Bermain peran dalam situasi dan topik yang sudah disepakati bersama. Dramatic Play semacam ini sudah menjadi aktivitas harian di rumah kami, paling bisa diandalkan saat butuh amunisi untuk menanamkan ‘value’ tertentu. Misal saat Gege malas mandi, metode ceramah dan bujuk rayu mah bagai pungguk merindukan bulan. Salah satu skenario yang bisa dimainkan untuk berdramatic play, misal:

Ummi : ”(Ambil salah satu action figure koleksi Gege) Bang, coba dengerin Bima X mau ngomong.”
Gege : ” (mata berbinar, senyum cengar cengir)
Ummi : ”Gege, please take me to bath, aku mau mandi Gegeeee. Badanku sudah bauuuuu’ aseeeem. Aku mau mandi di bawah pancuran, pake sabun dan gosok gigi juga. Oke?! Let’s go! (Karakter suara diubah lebih berat dan mantul kayak ‘Optimus Prime’) 😀
Gege : “Okeeeeee!” 
Ummi : “(dalam hati) mission completed! Yikes!”

Demikian juga pada saat main sekolah-sekolahan sebagai alternatif Gege yang belum tertarik sama sekali untuk masuk Play Group. Jadi selama pelajaran berlangsung Gege berlagak seolah seorang murid TK yang baik. Pakai tas dan sepatu, naik sepeda, pamit dengan semua orang, tak berselang lama terdengar salam dari anak sekolahan pura-pura itu :D, ”Assalamu’alaykum bu guluuuuu!” hehe, bikin geli dengernya. Tapi justru disaat memainkan dramatic play tersebut, saya bisa leluasa mengontrol emosinya, mengajarkan macam-macam sikap dan basic life skill.

Kembali ke sayur, 🙂
Yang saya lakukan biasanya berlagak sebagai seorang kritikus makanan, atau seorang detektif rasa, atau seorang food blogger 😀 yang sedang mencicipi sayur, e.g. sayur bening bayam.

Ummi : ”Hmm, rasanya enak banget, sedap, pecaaaaah di mulut! So yummy! Juara banget enaknya! Mau coba? (Ini mah muji masakan sendiri namanya, hehe)”

Alhamdulillaah, responnya positif. Sst, dia penasaran. Pertama ngelirik isi piring, beberapa jurus kemudian :
Gege : ”Mau doooong!”

-Mission completed- 🙂

Saat sudah ‘masuk perangkap’ saatnya sounding, doktrin sayuran, hehe.
Ummi : Gimana? Sayurnya beneran enak kan? Yummy kan? Iya dong, biar sehat terus, anak pintar makannya sayur kan? Upin-Ipin juga sama kayak Gege, mereka suka makan sayur….bla bla blah 🙂 determined emoticon.

Gege : ”Yumm, iya, sayur enak ya, Mi! Mau lagi….!”
Ummi : ”Alhamdulillah…besok sayur kangkung yaa?”
Gege : ”Okeee!”

🙂

Manfaat Dramatic Play
Sudah banyak penelitian dilakukan terkait manfaat Dramatic Play untuk perkembangan anak, baik kemampuan kognitif atau sosial. Dramatic Play setidaknya mampu membuat keempat area ini berkembang:
– Kognitif : Anak belajar tentang pemecahan masalah (problem solving), negosiasi, kreativitas, perencanaan, juga penerapan tentang pengetahuan yang baru saja didapatnya.
– Fisik : Anak dapat mengasah motorik halus dan kasar, koordinasi dan kekuatan tubuh.
– Sosial/Emosi : Anak belajar tentang berbagi, menunggu giliran, negosiasi, berkoordinasi, dan bagaimana saat harus menghadapi kekecewaan. Anak juga belajar tentang penghargaan diri (self-esteem), kebangaan dan kepuasan, perasaan aman dan nyaman, mengembangkan rasa keakuan diri.’
– Bahasa : Anak belajar mengembangkan kosakata selama bermain peran terhadap topik yang dimainkan, belajar bertanya jawab, dll.

Gimana, banyak ya manfaat dari Dramatic Play ini? So, let the children play! 🙂

image

#Merayap itu seni bergerak ke segala arah dengan bertumpu pada perut (tummy) tanpa takut mengotori baju 😀 (No matter how hard we teach and stimulate him to crawl)

Let’s keep scooting, kiddo! Explore the world with tummy 😀

image

Benarkah Bayi yang tidak Merangkak Akan Mengalami Gangguan Perkembangan?

Seringkali kita menyaksikan beberapa bayi tidak merangkak, melainkan mereka merayap (menggunakan perut) ataupun mengesot (menggunakan pantat). Para orang tua dan tenaga medis setuju bahwa merangkak harus bisa dilakukan bayi sebagai tolak ukur tahapan perkembangan normal karena hal ini berkaitan dengan perkembangan otak. Bayi yang tidak merangkak juga kerap dikaitkan dengan prestasi akademis anak yang kurang baik dikemudian hari. Benarkah demikian?

Qodarullah, anak kedua saya, Fathan, yang bulan ini genap berusia 9 bulan BELUM MERANGKAK, melainkan merayap ke manapun dia suka. Saya tidak tahu apakah Fathan termasuk ke dalam kelompok bayi yang akan ‘skip’ merangkak, atau apakah dia butuh waktu beberapa lama lagi untuk bisa merangkak? Yang jelas, sebagai orang tua kita harus selalu ‘kekinian’ dalam mencari tahu jawaban dari tiap keraguan.

image

Link di bawah ini setidaknya mampu menjawab kegundahan hati saya dan mereka yang anaknya tidak merangkak, bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan apabila bayi tidak/enggan merangkak.

Artikel ini membahas penelitian yang dilakukan oleh David Tracer, seorang Antropologis di Universitas Colorado, Boulder yang menemukan fakta bahwa bayi-bayi yang melewati fase merangkak tetap dapat berkembang dengan normal layaknya bayi-bayi yang merangkak. Tracer meneliti sebanyak 113 pasangan Ibu – anak suku Au Papua Nugini di mana bayi-bayi di bawah 12 bulan berada dalam gendongan setidaknya 86 persen dalam sehari, sampai mereka siap untuk belajar berjalan. Bagaimanapun mereka juga meletakkan bayi-bayi mereka, namun dalam posisi duduk tegak, dan tidak dalam posisi tengkurap sehingga bayi-bayi itu tidak pernah belajar bagaimana cara merangkak. Suku Au bukanlah satu-satunya yang melakukan pembiasan semacam ini kepada bayi-bayi mereka. Penelitian tentang anak-anak di Bangladesh menghubungkan merangkak dengan tingginya kasus diare, dan menggendong bayi setidaknya membatasi kontak bayi-bayi tersebut dengan patogen  tanah secara langsung. Selain itu juga untuk melindungi bayi-bayi tersebut dari serangan predator. Tracer menyimpulkan bahwa sebenarnya fase merangkak merupakan penemuan yang baru muncul pada satu atau dua abad yang lalu di mana tempat tinggal manusia sudah memiliki lantai yang lebih higienis.

Pada ahirnya, penemuan Tracer ini berimplikasi pada ‘sempitnya’ kita selama ini dalam memandang perkembangan normal bayi, dan cenderung berstandar pada bayi-bayi yang lahir di belahan barat dunia.

Wallahu’alam 🙂

http://www.scientificamerican.com/article/crawling-may-be-unnecessary/

Curious George Belajar Puasa! :-)

It’s Ramadan Curious George!

Alhamdulillaah, ahirnya petualangan yang ditunggu-tunggu pun hadir juga. Tahun ini Curious George akan ikut belajar mengenal tentang bulan Ramadan, tentang shalat, dan tentang bersedekah melalui teman barunya, Kareem.

Seperti kita ketahui, di Amerika Serikat sendiri karakter Curious George dan Pria Bertopi Kuning (the Man with the Yellow Hat) telah muncul dalam ratusan buku anak. Karakternya yang cerdas dan selalu ingin tahu menjadikan Curious George idola setiap anak. Tak hanya di negara asalnya Amerika Serikat, Curious George pun terkenal di banyak negara lain, termasuk Indonesia. Bahkan salah satu stasiun TV nasional menayangkan animasi 2D nya setiap hari.

Menurut Hena Khan, penulis buku ”It’s Ramadan Curious George!” dengan hadirnya petualangan baru ini diharapkan mampu mengenalkan anak-anak tentang keberadaan teman-teman muslim yang juga tinggal di tengah-tengah mereka. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa muslim Amerika pun sama saja seperti mereka, sama-sama warga Amerika, baik warga asli amerika, warga keturunan, ataupun pendatang.

Kami tunggu kedatanganmu ya George! ❤

Salam dari penggemarmu, Ghozi Al Ghifari 😀

Selengkapnya di http://www.nydailynews.com/entertainment/theater-arts/curious-george-celebrates-ramadan-new-book-article-1.2547456