Sapi Vs. Babi

Ummi: Itu namanya apa, nak?
Gege   :Babi
U   : Bukan, tapi sapi
G   :Babi
U   :Sapi
G   :Babi
U   :Sa
G   :Sa
U   :Pi
G   :Pi
U   :Sa-pi
G   :Babi
U   :Sssssa
G   :Sssssa
U   :Pi
G   :Pi
U   :Sssaaaapiiii!
G   :Sssss babi

:p

*jadi mikir, jgn2 gara2 banyak daging sapi yang dioplos daging babi kali ya…

Advertisements

My Grown-up Baby Turned Three

Kemarin, 20 Juli, Gege genap 3 tahun alhamdulillaah 🙂 Terima kasih ya Allaah, atas nikmat sehat selama ini, atas semua nikmat besar lain yang masih Engkau berikan pada kami, pada anak sholih bernama Ghozi Al Ghifari, alhamdulillaah.

Catatan di penghujung Dua-nya Gege:

– Alhamdulillaah, saat yang kami tunggu-tunggu tiba juga. Gege yang perkembangan verbalnya relatif tertinggal dibanding teman-teman seusianya, kini sedang menunjukkan ‘vocabulary boom’ nya. Dari awal tahun keduanya saya sudah khawatir karena hanya beberapa kata saja yang bisa diucapkan, saya ralat, yang dy mau mengucapkannya, selebihnya dy enggan bahkan sekedar menirukan apa yang kami ajarkan. Saya juga khawatir jangan-jangan Gege terkena gangguan susah konsentrasi atau bahasa medisnya attention deficit hyperactivity disorder (adhd) yang salah satu cirinya adalah perkembangan bahasanya lambat. Tapi segera saya tepis, meski gege memang super duper aktif dan mengalami speech delay, tapi perkembangan kognitifnya yang lain bagus, alhamdulillaah, no worry. Kalau kata beberapa orang sih bisa saja karena lidahnya pendek. Hm, bisa jadi jika ada kelainan pada organ bicara anak, seperti pada leher, telinga, rahang, bibir, rongga mulut, dan lidah; yang semuanya akan berkembang seiring seringnya organ tersebut digunakan. Alhamdulillaah fungsi organ-organ bicara gege baik-baik saja, hanya saya tidak tahu apakah lidahnya terlalu pendek? 🙂 Hm, setelah diamati gak juga, bisa jadi karena faktor lain. Saya pernah cerita ke salah seorang dosen saya tentang Gege yang ‘susah ngomong’. Beliau yang dosen Linguistik terapan itu bilang, ”jangan paksain ank untuk ngomong saat ia belum siap. Ia pasti akan bicara juga nantinya. Ada yang namanya silent period, saat ia merekam segala informasi yang diihat, dengar, dan rasakan, dan baru akan diekspresikan secara verbal saat ia sudah siap”. Saya jadi legaan mendengarnya, apalagi saat kakak sepupu suami juga memiliki anak yang awalnya tidak mau bicara, dan baru mulai bicara diusianya yang ketiga tahun. Saya juga sadar sepenuhnya bahwa tiap anak memiliki perkembangan yang berbeda, masing-masing punya keunikan. Kecerdasan berbahasa gege memang lebih lambat, namun kecerdasan yang lain muncul lebih cepat. Alhamdulillaah sekarang Gege sudah mulai cerewet, sudah menunjukkan minatnya untuk bercakap-cakap dengan bahasa verbal, meski masih ada beberapa artikulasi fonem yang belum mampu diucapkan, seperti [f], [l], dan [r]. Meski masih patah-patah bunyinya saat ia mengucapkan kalimat utuh, tapi hal itu adalah hadiah terindah dipenghujung usianya yang kedua. Finally, he is speaking! 🙂

– Mampu melakukan banyak praktek keseharian tanpa bantuan. Rasa ingin tahunya begitu tinggi sampai-sampai kami begitu kewalahan dibuatnya. Saya katakan, Gege-ku telah menjelma menjadi ‘grown-up baby, my little adult :-)’ Beberapa rutinitas yang sudah tak mau dibantu orang dewasa, seperti: melepas dan memakai pakaian, mandi, toilet activity, membuat susu/teh, mengocok telur, bikin mie instan, etc. Untuk yang rentang bahaya seperti menuangkan air panas dan menyalakan kompor masih harus saya lakukan, karena takut bahaya, nampaknya dy yang ‘ingin’ sendiri melakukan semua yang orang dewasa lakukan. Bahkan untuk urusan makan/minum, piring gelas yang dipakainya pun harus yang pecah belah, dan alhamdulillah Gege sudah sangat piawai nenteng2 perkakas pecah belah tanpa khawatir pecah. Yuk lah, selama masih aman, biarkan saja dy semakin berekplorasi.

– Perkembangan emosi Gege yang sedang berada dalam masa-masa ‘terrible three’ menurut saya, terkadang begitu menguji kesabaran. Apalagi setelah adiknya lahir, semakin banyak saja ulahnya untuk mencari perhatian kami, khususnya mencari perhatian umminya. Yang dulu saya khawatirkan pun benar-benar terjadi, namun kata orang-orang hal seperti itu wajar dan biasa terjadi pada anak-anak, merasa cemburu atau iri pada kehadiran adik baru, merasa takut tak diperhatikan/disayang lagi, maka pelampiasannya terkadang menguji emosi kami. Misalnya saat adik bayi sedang digendong karena menangis, tiba-tiba dy juga minta digendong, sambil merengek-rengek, dan harus umminya yang gendong, hadeeeh, terus minta minum yang harus umminya yang ambilkan, tidur harus dengan umminya, dan bentuk tantrumnya makin sering diungkapkan dengan tengkurapan di lantai atau tanah, pasang rengekan panjang. Parahnya di tempat umum pun terkadang begitu, membuat kita harus pasang muka tembok :d Saya akui saya belum mampu menjadi Ibu yang selalu punya banyak cadangan kesabaran, kadang saya pun terpancing untuk ‘yelling’ yang selalu saya sesali setelahnya. Saya sedang belajar agar jika harus terpancing bisikan jin untuk marah-marah, saya ingin marah yang elegan, segera ambil wudhu untuk menenangkan hati, atau mungkin saya harus seringsering mendo’akan kebaikan pada Gege dalam kondisi sedang terpancing untuk marah sekalipun. Ya Allaah, tolong saya jaga lisan ini… Sekarang ini saya jadi makin sering mendongeng untuknya, khususnya menjelang tidur, saat itu saya bisa bebas mengarang cerita yang tentu saya selipkan pesan moral agar bentuk emosi dan marahnya disalurkan dalam bentuk lain.

Emosi baik juga kerap ditunjukkan Gege pada Fathan ❤ misalnya saat Fathan menjerit nangis, reflek Gege langsung berlari menemuinya, ''Sayang deeek'' katanya sambil mengusap-usap kepala adiknya dan menciumnya. Masyaa Allaah, so sweet 🙂

– Dalam perkembangan sosialnya alhamdulillaah sudah semakin banyak kemajuan. Misalnya setiap ada teman yang main ke rumah, Gege menyambutnya dengan sumringah, mengajak temannya untuk bermain; dikeluarkannya semua mainan yang ada. Namun ada beberapa hal yang masih harus terus dikoreksi, seperti saat ia mengajak teman-temannya bermain bersama, Gege masih cenderung 'memaksa', dan terkadang masih tidak mau membagi 'jajan'nya untuk teman, namun terkadang malah sangat royal, :d tergantung mood. Mengucapkan terima kasih pada siapapun yang telah menolong atau memberinya sesuatu sudah dilakukannya dengan baik. Di rumah kami ada pohon kebaikan 🙂 untuk mengapresiasi tiap kebaikan yang dilakukannya pada orang tua, teman, hewan, tumbuhan… Semoga Allaah senantiasa menjaga akhlaknya, dan memampukan kami dalam penjagaan yang sungguh berat ini. Aamiin…

image

image

Love you toooons, my grown-up baby ❤

Fathan Birth Story

image

Namanya Fathan Al Ghifari, lahir pada 16 Juni 2015 atau 29 Sya’ban 1436 H. Lahir secara natural alhamdulillaah pukul 12. 28 WIB.

Sebelum ke ‘birth story’nya Fathan, sedikit cerita ah tentang bagaimana saat ia masih di dalam rahim, saat ia masih berbentuk fetus sebesar biji kacang hijau, (masyaa Allaah).

Pertengahan Oktober 2014,
Saya mulai curiga dengan hormon di tubuh yang mulai terasa perubahannya, ditambah siklus bulanan yang sudah telat beberapa minggu. Saatnya test pack! Dan benar, garis merah dua terlihat jelas di sana! Alhamdulillaah…, another blessing would cherish the rest of our coming years.

Perjalanan berat pun dimulai. Tiga bulan pertama setelahnya, kondisi badan saya melemah dibeberapa waktu. Makan tak enak, morning sickness, pusing, sampai beberapa kali nyaris pingsan. Sama saat hamil anak pertama, begitu juga. Bedanya, kali ini ditambah sakit gigi! 😀 Masyaa Allaah, rasanya 🙂 (yang pernah sakit gigi pasti tahu rasanya). Terahir sakit gigi sewaktu SMA kelas X, baru kembali sakit saat hamil ini, dan itu terjadi di trimester pertama kehamilan. Sakitnya membuat saya sampe jejengkingan 😀 nahan sakit. Rasanya pingin cabut gigi saja. Tapi ternyata saya baru tahu kalau beberapa bumil pun mengalami hal yang sama disebabkan kekurangan kalsium. Hmm… Tahan… Beberapa cara alami sudah saya lakukan, seperti kumur-kumur pake air garam untuk meredakan nyeri, dikompres pake rendaman asam jawa, disumpelin minyak tawon, pijit dan kerikan, etç. Kalau sudah begini, jangankan mau makan, mau bangun aja rasanyaa berat. Jadi saya kebanyakan hanya meringis di atas kasur. Yang paling menguji kesabaran saat sakitnya muncul, abang Gege-nya malah reweeel, duuuh. Alhamdulillaah sakit gigi-nya hilang saat masuk bulan keempat. Saat itu pula saya baru mulai melanjutkan menggarap skripsi yang sudah hampir dua tahun tak beres-beres. Kali ini saya sungguh-sungguh serius! 🙂

Jadilah saya mulai bolak-balik ngampus, kadang saya bawa juga Gege. Saat itu sedang puncaknya ‘pening’ mikirin olah data. Secara saya gak jago masalah statistik, saya mulai semuanya dari nol lagi. Belajar statistik dari dasar, gurunya internet, lewat mbak tutorial dn mas youtube 🙂 butuh beberapa minggu untuk mengerti konsepnya, mencocokkannya dengan desain penelitian dan alat analisa data, meski pada ahirnya saya pakai spss, yang kata orang statistik instan, tapi kata saya mah, tetap bikin makanan dilidah kerasa hambar 😀 Singkat cerita, draft ahirnya beres, tinggal masuk ke meja dosbing. Dari situ, sampai draft ahir cetak, mungkin tingginya sudah belasan inchi, kadang satu draft banyak banget revisinya, kadang hanya coretan tunggal 🙂 saya benar-benar menikmati prosesnya, suka dukanya. Calon bayi di dalem rahim pun memeras otaknya untuk berusaha mengerjakan yang terbaik, insyaAllaah, sampai kadang saya kram perut saat sangat kecapean. Kuat, nak, kuat kan? Kuat dong! 🙂 Alhamdulillaah dengan berbagai ikhtiar dan kelancaran dari Allaah, ahirnya bisa ikut upacara wisuda, 20 hari persis sebelum si jabang bayi lahir. 🙂

Awal Juni 2015
Saya sudah diminggu terahir kehamilan, hpl tanggal 14 Juni, dan saya belum sekalipun USG. Maklum, gak sempet karena kemarin-kemarin sibuk ngurusin draft dan bolak-balik kontrakan-kampung. Jadi satu minggu sebelum hpl barulah USG. Kata dokter obgyn di klinik Permata Hati Way Jepara, berat badan bayinya kurang, so, kemungkinan hpl bisa mundur hingga awal Juli. Jenis kelaminnya pun baru tahu saat itu, a baby boy 🙂 again 🙂 Alhamdulillaah karena kondisi yang ada di dalam sana baik, ketuban banyak, tidak ada lilitan tali pusar, posisi janin bagus. Tinggal nunggu aja, insyaAllaah.
Saya mulai browsing segala hal tentang persalinan, yah, meski ini sudah persalinan kedua, masih saja rasanya deg-degan. Saya coba praktek teknik pernafasan, relaksasi mandiri, positive affirmation, etc. Pokoknya saya harus sukses persalinan kali ini. Belajar dari yang pertama, agar jangan sampai kehabisan tenaga karena kelelahan, agar tak keras kepala tak mau makan untuk tambah energi macan, agar post partum bisa dijalani dengan suka cita. Maka masuk hari-hari menjelang hpl, insyaAllaah sudah siap lahir bathin 🙂

14 Juni 2015
Malam sekitar pukul 20.00 mulai terasa kontraksi ringan, yang munculnya masih setengah jam sekali.

15 Juni 2015
Kontraksi mulai terasa lumayan sering tapi singkat menjelang siang sampai sore. Hanya ada suami dan Gege. Siangnya, Uncu (adik bungsu Bumer) ikut nemenin di rumah, ikut jaga-jaga karena Bumer sedang tidak di rumah, Ibu mertua sedang periksa mata di RS di Komet. Menjelang malam pun belum pulang, malah dikabarin mobilnya masih masuk bengkel, jadi ada kemungkinan menginap. Sedangkan Ibu saya baru pagi bisa ke sini.

Pukul 21.00
Periksa ke bidan, sekalian beli camilan buat penambah tenaga selama proses pembukaan. Saya sudah sekalian bawa tas besar berisi keperluan lahiran, dan cukup kaget karena Ibu bidannya (bidan Hj. Wagiyah) bilang beliau tidak menolong lahiran di kliniknya. Terus, Bu? Alhamdulillaah, ternyata beliau maunya proses lahirannya di rumah pasien saja. Alhamdulillaah… Saya terus berdo’a agar prosesnya dipercepat, agar sakitnya tak seberapa. Selama itu saya pun terus melakukan teknik pernafasan panjang dan dalam, khususnya saat kontraksi datang. Saat itu perasaan saya campur aduk. Tidak ada Ibu, anak rewel, kontraksi makin sering. Alhamdulillaah Ibu mertua pulang sekitar jam 10 malam. Saya masih meringis nahan sakit. Ahirnya pukul setengah 12 malam saya minta suami menyusul bidannya karena sakitnya makin bertambah dan sering. Bidannya datang dan langsung melakukan ‘pemeriksaan dalam’. Sudah pembukaan 1 cm. Tadinya Ibunya mau pulang dulu karena masih lama, masih sekitar 10 jam-an lagi katanya. Tapi saya merengek agar Ibunya menginap saja di rumah, alhamdulillaah ibunya mau.

Sepanjang malam hingga waktu subuh saya merintih menahan sakit yang makin sering. Saya minta diperiksa lagi karena kok sakitnya serasa udah pembukaan lengkap. Ternyata masih pembukaan 4. Allaah… Ampuni aku atas segala rintihan sakit ini… Ampuni saat aku tak tahan dan ingin saja sudahi sakit ini dengan operasi cs…Saya istighfar, kembali fokus bahwa saya mampu menjalani persalinan normak. Mudahkan ya Allaah…. Dzikir diiringi pernafasan dalam menjadi sugesti bahwa semua sakit ini hanya sementara. Alhamdulillaah, it works to release the pain, meski masih suka mejemin mata saat kontraksi datang. Saya terus mensugesti diri bahwa persalinan adalah suatu proses yang alami, tubuh saya tahu apa yang harusnya dilakukan, dan saya percaya saya bisa, saya tak sabar mendengar jerit tangis pertama bayi saya. You can do it, insyaAllaah, trust your body, pray that Allaah would make it easy.

16 Juni 2015
Pagi itu Ibu bidannya pamit pulang, nanti akan kembali dijemput saat kira-kira sudah siap lahir. Pagi jam 9 Ibu saya datang, alhamdulillah. Saya disuruh jalan-jalan kecil agar pembukaannya cepat. Tapi karena pusing, saya banyakin duduk tegak aja, sambil terus atur nafas. Kantuk yang luar biasa datang lagi, makanya saya minum kopi sedikit biar gak ngantuk. Pukul setengah 12 saya minta Ibu bidannya dijemput karena sudah tidak tahan, dan lagi bayinya sudah ‘ngajak’ pingin keluar. Pukul 12.00 saya siap untuk mengejan dengan benar insyaAllaah. Air ketuban pecah. Bismillaah…. Empat kali dorongan panjang saja, diselingi seteguk teh manis hangat, mengantarkan tangismu pecah, nak… T_T Allaah…

Pukul 12.28 wib
Terdengar tangis bayi pecah memecah ketegangan di rumah, mata kecil yang langsung terbuka lebar, masih terbalut cairan ketuban, alhamdulillaah anakku selamat, sehat…

Ya Allaah, jadikanlah ia seseorang yang hatinya senantiasa terpaut padaMu, yang memiliki sifat pema’af seperti yang tersemat pada nama belakangnya, Al-Ghifari. Lalu nama depan yang berarti ‘menang’, Fathan, merupakan do’a kami juga agar ia menjadi hambaMu yang ‘menang’ dalam mengendalikan nafsu, hingga ‘menang’ menggapai ridhoMu dunia akhirat, aamiin…

Love you, fillaah ❤

What Else for Ramadhan Crafts?

Late Post btw 🙂

Ramadhan telah berlalu, namun jejaknya masih membekas di hati. Semoga Allaah pertemukan dengan Ramadhan tahun2 yg akan datang, aamiin.

Berikut ini beberapa crafts yang bisa dibuat untuk menambah semarak Ramadhan di rumah insyaa Allaah…

1. Ramadhan Welcome Card
Yuk, intip bagaimana Gege berkreasi membuat pop up card untuk menyambut Ramadhan, di sini ya…

2. Sadaqah Jar
Silakan baca postingan kami sebelumnya tentang sadaqah jar</a

3. Good Deeds Tree
Sounds cool? 🙂 Let's make one
here!

4. Jar for Du’as
Jika di rumah ada toples bekas, bisa kita manfaatkan untuk membuat semacam ‘kotak do’a’. Ajak si kecil untuk menuliskan do’a dan memasukkannya ke dlam jar, tanamkan padanya untuk meminta apapun langsung pada Sang Maha Mendengar, Allaah…

image

image

image

5. We Love Sunnah Lapbook

Let’s live the sunnah! Bukankah Ramadhan bulan yang sudah seharusnya kita memperbanyak sunnah? Mari, bersama belajar saling mengingatkan untuk menghidupkan sunnah! #SelfReminder

Gambar diambil dari courtesy of pinterest! Ajak si kecil membuat lapbook sunnah!
image

image

image

image

Tampak Luar, ini ceritanya dibikin mirip jas gitu, 😀 gak mirip sih, gak papalah! 😀 Kantung jas-nya bisa kita manfaatkan untuk ‘Du’a Pocket’, yg fungsinya sama seperti ‘Jar for Du’as’ 🙂

image

So, let’s open the lapbook! Nah, tampak dalamnya ya….