DIY Thread Container

Alat & Bahan,

image

– Benang sulam, * bisa diganti benang nilon, woll, talikur, etc.
– Lem putih (fox)

image

– Aneka wadah *sesuai selera

image

-Cling film *bisa juga plastik asoy, fungsinya untuk membungkus wadah

image

– Gunting *untuk menggunting cling film yg diperlukan

– Air secukupnya *untuk melarutkannlem

Caranya?
-Bungkus wadah dengan cling film menyesuaikan bentuknya. Seperti ini.

image

– Campurkan lem fox ke dalam air secukupnya. Aduk rata hingga lem menyatu dengan air. Kayak gini.

image

– Rendam benang ke dalam larutan lem beberapa saat.

image

– Gulung sesuai selera pada wadah yang telah dibungkus cling. Ini contohnya.

image

– Jemur di bawah sinar matahari. Tunggu hingga kering.

Here’s the result

image

* kami kehilangan gelas benang warna hitam kami saat penjemuran, hiks hiks, semua ini pasti ulah si Berto. So, kami buat dengan cetakan mangkuk. Bisa digunakan untuk apa pun

Advertisements

Weaning Without Tears

Alhamdulillaah setelah bertanya sana sini dan searching gugel, ahirnya saya faham tentang penyapihan anak yang baik dan sesuai hukum syara’.

Anak pertama kami hari ini tepat berusia 26 bulan, dan belum lepas dari asi (breast milk). Saya sudah sering mendapat teguran baik dari saudara dan tetua agar lekas menyapihnya. ”Kan bisa diolesi jamu (brotowali), atau diolesi lipstik biar kayak luka, jadi anakmu gak mau nyusu lagi ntar” begitu kata mereka. Bagaimanapun saya merasa cara-cara itu sama saja membohongi anak dan akan sangat melukai hati mereka. Ah, tak bisa saya membayangkannya. Bahkan ada yang parah ”….njalok syarat karo wong tuo” katanya. Maksudnya minta jampi-jampi dari mbah dukun, hihihi….

Ramadhan lalu saya pernah sedikit memaksa Gege untuk tidak menyusu, minimal di siang hari, hitung-hitung biar badan saya gak nambah lemes karena juga berpuasa. Sayang hanya berlangsung beberapa hari saja, karena dia tambah merengek saat dijauhkan dari asinya. Sebagai seorang Ibu, siapa yang tak iba melihat anaknya guling2 karena tak diberikan apa yang menjadi haknya? apalagi memang saat itu dia belum genap dua tahun. So, saya sambungkan lagi asinya.

Mari merujuk pada Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 233,

”Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Uneg-uneg saya tentang ayat ini terjawab sudah setelah membaca sebuah artikel dari sebuah blog yang menerangkan secara gamblang bagaimana harus menyapih anak sesuai hukum syara’. Saya menjadi faham bahwa tidak mengapa jika anak yang sudah berusia dua tahun lebih masih menyusu kepada ibunya. Dulu saya bertanya-tanya apakah ‘wajib’ hukumnya melepaskan asi bagi anak yg sedang kita susui tepat diusianya yang kedua. Bagaimana jika lebih dua tahun? Berdosakah?

Menurut tafsir Ibnu Katsir, bahwa sempurnanya menyusu itu ada diusia dua tahun, lebih dari itu tidak dikatakan penyusuan, hal ini dikarenakan hukum mahram yang terjadi antara anak dengan ibu susu. Dalam tafsir tersebut dikatakan bahwa Rasulullah -shallallahuálayhi wa sallam- bersabda, “Tidak menjadikan mahram akibat penyusuan, kecuali yang dilakukan kurang dari dua tahun.”[HR. Ad-Daruquthni].

O, jadi salah satunya karena faktor mahram juga. Pada hadist lain oleh Bukhari dan Muslim, Aisyah r.a. mengatakan bahwa nabi SAW bersabda: “Perhatikanlah siapakah sebenarnya saudara sepersusuanmu itu, sebab penyusuan yang dianggap itu hanya pada masa bayi, yakni ketika makanan utama dari bayi itu hanya menyusu.”

Uneg-uneg lainnya adalah bagaimana seharusnya menyapih yang sesuai dengan hukum syara’? Artikel tersebut menyertakan sebuah kisah seorang shahabiyyah yang hidup di zaman Rasulullaah. Beliau adalah Ummu Sulaim, ibunda dari Anas bin Malik r.a. Saat itu Ummu Sulaim yang janda mengatakan, ”Aku tidak akan menyapih Anas hingga dia sendiri yang memutuskannya, dan aku tidak akan menikah sehingga Anas menyuruhku.”

Saya semakin yakin untuk tidak menggunakan cara-cara kolot dalam masa penyapihan ini. Ummu Sulaim sungguh telah mengajarkan bagaimana seharusnya kita dalam menyapih anak, yaitu dengan kasih sayang, tidak dengan jalan pemaksaan atau kebohongan. Namun demikian, bagaimanapun bolehnya masih menyusui anak yg telah berusia dua tahun ++, mari tetap berikhtiar dalam melewati masa-masa ini, masa yang sama-sama sulit, bagi anak dan juga ibu. Sungguh, sulit sekali rasanya harus melepaskan anak dari dekapan. Rutinitas menyusui yang menenangkan, harus tergantikan dengan aktivitas lain. Biasanya saat anak tidak nyaman, takut, sampai sakit, semua obat ada pada nyusu, sambil sounding menenangkan hatinya. Belum siap rasanya untuk melepasnya 😦 Yet, every mother shall be ready for that..

Di zaman modern ini, para ahli telah membuktikan bahwasannya tidak dibenarkan menyapih (weaning) dengan menggunakan tipuan-tipuan seperti yang saya sebut di awal. Ada dampak Psikologi bagi anak yang merasa ditipu agar berhenti menyusu. Bahasan tentang ini sudah sering dikupas oleh para pakar laktasi dan psikolog anak bahwa menyapih itu harus dengan cinta (weaning with love/wwl). Untuk deskripsi lebih lengkap silakan searching sendiri di gugel 🙂

Intinya, bahwa penyapihan harus dilakukan atas dasar keikhlasan anak melepas sendiri asi-nya tanpa paksaan dari ibunya. Ada beberapa trik agar proses WWL ini sukses, seperti: sounding terus-menerus, yaitu mengatakan berulang-ulang pada anak bahwa ia sudah besar dan tidak lagi nyusu. It takes time, really. Saya sudah melakukan sounding ini jauh-jauh sebelum Gege berusia 2 tahun, meski belum konsisten benar. Seperti hypno-parenting, mengatakan berulang-ulang hingga alam bawah sadar anak terbentuk untuk tidak lagi menyusu. Di WWL juga dianjurkan untuk tidak menawarkan tapi tidak menolak saat anak minta nyusu. Nah, lo… sebisa mungkin dialihkan perhatiannya.

Hm, penyapihan ala Islam, sekali lagi, menegaskan ilmu modern yang terus berkembang yaa. Alhamdulillaah…

So, semakin mencari tahu, ternyata semakin banyak yang belum saya pelajari 🙂 Semoga Allaah memudahkan tiap hambanya yang senantiasa mengembalikan segala urusannya pada Islam. Aamiin

Penjelasan yang lebih rinci silakan link tautan di atas 🙂


Tears…..NO!

Rose :-)

image

Pink Rose at D’Minimalist Garden
22 | 08 | 2014

Lagi ada bulek Inay main ke rumah SKD. Nginep 2 hari melepas lelah karena aktivitas kampus. 🙂 Padahal Cici Zima mau bangeet ikutan main, tapi karena satu dan lain hal, maka lain kali saja ikutannya.