Hari Pertama Kelas Inggris

Seperti hari pertama masuk sekolah, beberapa anak usia 5-7 tahun nampak sedikit nervous ketika masuk kelas. Perasaan yang biasa dialami oleh anak-anak, wondering, penasaran bagaimana kelas mereka akan berlangsung. Akankah menyenangkan? Atau justru mengerikan? Bagaimanakah pembawaan guru mereka? Bisakah mereka mengikuti pelajaran? Dll, pertanyaan-pertanyaan itu seolah tertulis pada raut wajah2 innocent itu. Sapaan guru pun, masih malu-malu dan takut untuk dijawab, bahkan ada yang malah menggeliat di balik lengan mamanya. “Ayo, anak-anak sholehah, kita berdo’a dulu, ya…” Sampai usai berdo’a pun masih terlihat canggung, tapi si mama sudah tidak di sisi anak, dan kontrol kelas tertuju pada Cikgu mama.😀

Es beku harus segera dicairkan dengan icebreaker, system limbik harus segera dibuka. Karena bagaimanapun beberapa menit awal pertemuan pertama ini sangat penting, sangat berpengaruh terhadap penilaian mereka tentang subjek yang akan segera mereka pelajari, dan juga tentang gurunya. Seperti umumnya tatap muka perdana, “topik perkenalan” menjadi andalan. Ada beberapa kegiatan ice-breaker yang bisa diterapkan untuk anak-anak dengan rentang usia di atas, salah satunya dengan “ball game”. Kenapa Cikgu mama memilih “Ball Game?”😀 hehe, karena anak-anak yang bahkan belum lancar membaca dan menulis itu, butuh kegiatan “repeat after”, menirukan dengan lantang apa yang guru ucapkan. Di samping itu mereka bisa menggunakan tangan, mata, telinga, dan mulut, serta fokus pada instruksi. Caranya? Anak-anak dipersilakan duduk di bangku/kursi dalam satu baris menghadap guru yang duduk sejajar dengan mereka dengan jarak yang terjangkau anak-anak melempar bola. Dengan menggunakan bola bantal (bisa juga bola lain dengan permukaan lembut), saatnya main lempar tangkap bola! Ajari anak untuk merespon pertanyaan guru. Misal:

Guru                      : What is your name? (Lempar bola ke murid A)

Murid A                : My name is Viona. (Tangkap bola, lempar kembali ke guru)

Guru                      : What is your name? (Lempar bola ke murid B)

Murid B                 : My name is Qiran. (Tangkap bola, lempar kembali ke guru)

ball

Begitu seterusnya, sampai mereka menguasai dan faham. Lempar tangkap bola dilakukan berurutan dari murid A, ke B, ke C, jika sudah lancar bisa dilakukan secara acak, anak-anak akan surprise dengan kedatangan bola yang tiba-tiba, dan biasanya akan mulai terdengar tawa mereka. Selanjutnya tinggal divariasikan dengan jenis pertanyaan dasar perkenalan, seperti, “how are you? How old are you? Nice to meet you, etc”. Oh ya, sekali lagi jangan sampai kelupaan satu hal, saat menjawab pertanyaan “how are you?” Jangan cuma ajarkan, “I am fine, atau I am wonderful, atau I am great” saja. Ajarkan untuk tidak lupa mengucapkan, “Alhamdulillah” yang artinya segala puji bagi Allah, bukankah Allah yang sudah beri kita sehat? Okay, kids? J Maka anak-anak super manis itu dengan mantap, menjawab sambil menangkap bola yang sukses mendarat di pelukan mereka dengan balasan, “Alhamdulillah, I am wonderful”🙂 Ah, Cikgu terharu, nak…

Selanjutnya bisa ajak mereka menonton dan memperagakan “nursery rhymes” tentang perkenalan . Ada banyak sumber belajar di youtube, missal channel Super Simple Learning (Misal yang berjudul ‘Hello!’). Ajak anak untuk berdiri, stretching dulu sebelum memperagakan nursery rhyme, daaaan, have fun! And they were enjoying the rhymes with their sparkling eyes.😀

Next, mereka butuh jeda. Istirahat dimulai. Recess Time. Dan kegiatan di dalamnya yang akan semakin membuat system limbik mereka terbuka lebar (rileks). Biarkan mereka bermain di luar, atau bagi yang memilih tetap indoor dan snacking, biarkan mereka menikmati waktu mereka. Beradalah di antara mereka, mengenal mereka lebih dekat, ngobrol dengan bahasa mereka, meluruskan hal yang salah, mengapresiasi hal yang baik, de el el. Sebaliknya, biarkan mereka juga mengenal guru mereka. Berceritalah tentang apa saja yang menggambarkan diri kita. InsyaAllah mereka akan terbuka dan bercerita layaknya sedang curhat dengan sahabat. Misal yang terjadi selama recess time tadi, ada yang memulai snacking time mereka tanpa mengucapkan basmallah, maka segera tegur dengan lembut, tunjukkan video anak yang menceritakan pentingnya berdo’a agar syetan tak ikut makan bersama kita. Biasanya anak akan tersenyum malu, “hehe, iya, lupa, Miss”. “Iya, kalo lupa gak-papa, insyaAllah. Eh, tapi kan ada loh, do’anya kalo lupa baca bismillah sebelum makan, mau tahu gak? Sini, Miss ajarin ya!” Eh, tiba-tiba teman di sebelahnya menyahut, “Miss, aku gak takut sama syetan. Kalo aku takutnya ama kuntilanak sama pocong”  EH?! “Sayang, kuntilanak sama pocong itu gak ada. Yang ada syetan yang suka bisikin buat gak nurut sama orang tua, atau yang suka godain kita biar kita lupa berdo’a. Takutnya sama Allah aja ya, nak. InsyaAllah kalo kita selalu berdo’a, syetan-syetan pada lari kebirit-birit…” Jawaban polos mereka adalah, “O gitu ya, Miss. Iya deh.” Ada juga yang kemudian menambahkan cerita yang terjadi saat sekolah. “Miss, ada temenku yang berani nantangin Allah. Kata dia, Allah itu punya kekuatan. Aku juga punya, kata dia.” (Dalam hati, ya Allah, banyak hal yang harus diluruskan, beri hamba pemahaman yang baik untuk tetap bisa menjadi pendengar cerita mereka dan meluruskan yang salah, insyaAllah).

Oke, recess time’s up. Waktunya review aktivitas hari ini. Lalu clean up. Terus bersiap pulang. Jangan lupa berdo’a.

See you next meeting, little cuties❤ insyaAllah

1650 English Corner

Bismillah,

Sabtu kemarin (27/8), seperti biasa ada sekelompok anak usia SD-SMP belajar Lingua Franca di rumah. Ba’da Ashar mereka sudah berkumpul, mulai saling menyimak hafalan teks pendek yang saya berikan di pertemuan sebelumnya. Teks tentang bagaimana memperkenalkan identitas diri dalam bahasa ‘Enggres’ (kata sebagian orang tua).

Kelas dimulai. Seorang anak laki-laki memimpin do’a. Memimpinnya dalam bahasa Inggris, berdo’anya dalam bahasa Arab🙂 It’s okay meski masih belepotan ngucapin ‘pray’ jadi ‘spray’ karena saking semangatnya🙂 Selanjutnya saling menanyakan kabar mereka dan kabar hafalan. 90% alhamdulillaah sudah hafal. Satu per satu maju, dengan teks yang nyaris sama, hanya identitas yang berbeda. Satu hal yang selalu saya ingatkan pada murid-murid luar biasa itu, bahwa ketika mereka memperkenalkan diri, jangan malu untuk menunjukkan identitas mereka sebagai seorang muslim. Dan, satu per satu dari mereka tak ada yang ketinggalan menyebutkan, ”I am a muslim and very proud, alhamdulillaah”.

Ya Rabbi, mengajarkan mereka untuk bisa dan biasa mengucapkan itu rasanya bagai menemukan Oase di tengah sahara. Rasa yang sama saya rasakan seperti saat beberapa murid yang terbiasa mengejek (membully) teman-temannya mulai mengurangi kebiasaan buruk itu. Bahkan mereka spontan menepuk mulut mereka sendiri saat sengaja atau tidak mereka kembali membully, sembari beristighfar dan meminta ma’af pada temannya itu. Karena di awal, mereka sudah menyepakati peraturan bahwa tidak ada yang boleh saling bully, sebagai konsekuensinya, mereka harus beristighfar dan meminta ma’af. Maka sekarang, di pertemuan kesekian kalinya, tak lagi gaduh terdengar laporan ada yang sedang membully. Kalau sebelum ini, saya sering dengar murid saya laporan,” Miss. Nabil ngebully lagi, aku dikatain item.” Atau ada juga laporan karena diejek ‘kiting-lah, jelangkung-lah’, dan sampai level ‘mata loe, palak loe, bapak loe sukijan, kampret’ etc. Segala verbal bully yang menyedihkan, karena semakin merendahkan kepercayaan diri yang dibully. Karena saya termasuk yang setuju bahwa tidak ada yang boleh menghina diri kita, maka saya ajarkan mereka untuk melindungi harga diri mereka, melawan tanpa ikutan membully. ”Waduh, kayaknya kamu gak tahu ya, bedanya warna arang sama kulit sawo? Eh, ngomong-ngomong, kamu sama aja ngebully Allah loh, kan aku ciptaan Allah. Mau warna kulitku kayak apa ya terserah Allaah, mau tinggiku kayak tiang listrik kata kamu, yah, itu sih urusan kamu sama Allaah.” etc.

Begitulah, kelas saya tak banyak mengupas detail lingua franca, karena yang lebih mereka butuhkan sekarang adalah manner, so, matter comes later. Maka saya tak begitu ambil pusing saat murid saya menuliskan ‘grandfather’ dengan ‘ger pader’😀 coz they’ll soon know how to write ‘grandfather’ correctly, insyaAllah.

Barakallahu fikum, learners!

– A Prologue –

image

😀 My pader and my sirter visited my ger pader and my angkel.

Hospital Visit

Beberapa minggu yang lalu, Gege ikut nemenin nenek kontrol di RS. Antrian pasien Poli lumayan padat, makanya lama banget nunggu giliran dipanggilnya, apalagi harus cek darah tiap kali kontrol. Setengah jam pertama Gege masih nicely behave. Setengah jam berikutnya mulai terlihat bete😦 Mulai jenuh dengan suasana poliklinik yang menjemukan. Berbagai pertanyaan pun sudah dilontarkan, seperti, ”Mi, lihat (sambil menunjuk pasien anak luka bakar), kasihannyaaa. Dia sakit ya, Mi?” Jawab saya, ”Iya bang. Kakak itu kena ledakan mercon pas dia main mercon. Kulitnya kebakar, sakit bang. Kasihan ya. Alhamdulillaah Gege gak suka main mercon, kan? :-)” Terus dijawab,”Iya Mi. Bahaya dong!”🙂 Pertanyaan selanjutnya seperti, ”ini apa, mi? Ini bacanya apa? Ini angka 4, kan?” etc.

Kembali dia teringat sedang bete. Amunisi beberapa snacks yang dibawa juga sudah menipis, sedangkan antrian masih seperti satu bis😀 Bosan bermain lari-lari, Gege ngubek-ngubek isi tas saya. Sebelumnya dia merengek kegerahan, mau lepas baju. Saya bilang nanti di rumah baru boleh, tapi tanda2 mau tantrum nyaris saja. Ya, udah sebentar aja, ya, nanti dipake lagi, oke deal. Dari dalam tas Gege menemukan pena, dan saya baru teringat lupa membawa buku coret2, atau kertas. Jadilah, sisa fc surat kontrol jadi sasaran ;D

image

Kata Gege ini gelombang air

Alhamdulillaah tiba giliran nenek diperiksa pakdok. Setelah menunggu cukup lama untuk antrian obat di apotek, Gege kembali gak sabar dan setengah merengek minta pulang. Tangan saya ditarik-tariknya, ”ayo, Mi. Pulaaaaang” teatrikal pokoknya, ditonton puluhan pasang mata. Sedangkan mata saya sibuk mencari objek pengalihan ‘kejenuhan’ Gege. Thanks to a flying insect, gak tahu namanya apa, yang jelas masih satu famili dgn butterfly. Si insect yang nempel di pintu geser ruang rontgen, tak bergeming saat saya tanya ini itu, haha. Berhasil, Gege begitu antusias dan selanjutnya mengamati insect yang nemplok tak bergeming.

Yuk, pulang, bye insecy!🙂

Suluten

Belum hilang bekas sakit campak kemarin, Fathan terserang suluten. Suluten/suleten itu dari bahasa Jawa, kalau istilah medisnya impetigo. Kalau orang awam biasa mengenalnya dengan istilah cacar api atau cacar monyet (monkeypox). Kalau orang Jawa…. BACK to Suluten! hehe.

Awalnya muncul ruam kemerahan di sekitar area ketiak, lalu membentuk bintil berair selebar sekitar 1-2 cm. Terus gak lama printilan itu pecah, dan menyisakan luka lepuh seperti tersulut rokok/api. Besoknya beberapa printilan muncul lagi, dan cairannya cepat sekali pecah, jika tidak ditangani, maka bisa menular ke seluruh tubuh. Alhamdulillaah ‘ala kullihal, it could be worse, suluten Fathan berhenti di area ketiak saja. Anyway, karena bekas pecahan airnya seperti luka tersulut api/terbakar, makanya itu orang Jawa kasih nama suluten, :p sulut+en. Nama cacar api juga mungkin karena bekas pecahnya melepuh seperti kena api. Okay, confirmed :d Sayangnya sebagian masyarakat (khususnya Jawa) masih suka percaya mitos bahwa suluten itu muncul karena ada pakaian bayi yang terbakar, makanya si bayi ikut ngerasain tersulut (suluten). Hehe, 100% MITOS yak!

FAKTAnya, suluten (impetigo) ini terjadi karena infeksi dari bakteri yang masuk lewat celah luka pada kulit., atau karena kontak sentuhan dengan orang yang terserang impetigo duluan (karena memang impetigo ini sangat menular).  Penyebabnya adalah bakteri Staphylococcuc aureus dan Streptococcus. Beberapa jenis impetigo bisa dilihat pada link berikut. Nah, yang diderita Fathan adalah jenis bullous impetigo yang banyak menyerang anak di bawah 2 tahun, tidak bernanah, melainkan bintil berisi cairan saja, dan sepertinya tidak gatal. Secara alami impetigo akan mengering dan sembuh dengan sendirinya, tergantung imun tubuh. Pengobatan tradisional untuk impetigo bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti: kompres air hangat pada area kulit yang terinfeksi, balur dengan ampas bawang putih yang telah dicampur minyak wijen, dengan minyak zaitun plus minyak pohon teh, atau dengan membalurkan daging lidah buaya selama kurang lebih 20 menit. Salep antibiotik juga penting untuk mempercepat penyembuhan luka. Jangan lupa IMUN! ImunIsASI! Gempur ASI!

Syafakallah honey bunch!

13646821_10207232383504209_2025195071_o