Hospital Visit

Beberapa minggu yang lalu, Gege ikut nemenin nenek kontrol di RS. Antrian pasien Poli lumayan padat, makanya lama banget nunggu giliran dipanggilnya, apalagi harus cek darah tiap kali kontrol. Setengah jam pertama Gege masih nicely behave. Setengah jam berikutnya mulai terlihat bete😦 Mulai jenuh dengan suasana poliklinik yang menjemukan. Berbagai pertanyaan pun sudah dilontarkan, seperti, ”Mi, lihat (sambil menunjuk pasien anak luka bakar), kasihannyaaa. Dia sakit ya, Mi?” Jawab saya, ”Iya bang. Kakak itu kena ledakan mercon pas dia main mercon. Kulitnya kebakar, sakit bang. Kasihan ya. Alhamdulillaah Gege gak suka main mercon, kan? :-)” Terus dijawab,”Iya Mi. Bahaya dong!”🙂 Pertanyaan selanjutnya seperti, ”ini apa, mi? Ini bacanya apa? Ini angka 4, kan?” etc.

Kembali dia teringat sedang bete. Amunisi beberapa snacks yang dibawa juga sudah menipis, sedangkan antrian masih seperti satu bis😀 Bosan bermain lari-lari, Gege ngubek-ngubek isi tas saya. Sebelumnya dia merengek kegerahan, mau lepas baju. Saya bilang nanti di rumah baru boleh, tapi tanda2 mau tantrum nyaris saja. Ya, udah sebentar aja, ya, nanti dipake lagi, oke deal. Dari dalam tas Gege menemukan pena, dan saya baru teringat lupa membawa buku coret2, atau kertas. Jadilah, sisa fc surat kontrol jadi sasaran ;D

image

Kata Gege ini gelombang air

Alhamdulillaah tiba giliran nenek diperiksa pakdok. Setelah menunggu cukup lama untuk antrian obat di apotek, Gege kembali gak sabar dan setengah merengek minta pulang. Tangan saya ditarik-tariknya, ”ayo, Mi. Pulaaaaang” teatrikal pokoknya, ditonton puluhan pasang mata. Sedangkan mata saya sibuk mencari objek pengalihan ‘kejenuhan’ Gege. Thanks to a flying insect, gak tahu namanya apa, yang jelas masih satu famili dgn butterfly. Si insect yang nempel di pintu geser ruang rontgen, tak bergeming saat saya tanya ini itu, haha. Berhasil, Gege begitu antusias dan selanjutnya mengamati insect yang nemplok tak bergeming.

Yuk, pulang, bye insecy!🙂

Suluten

Belum hilang bekas sakit campak kemarin, Fathan terserang suluten. Suluten/suleten itu dari bahasa Jawa, kalau istilah medisnya impetigo. Kalau orang awam biasa mengenalnya dengan istilah cacar api atau cacar monyet (monkeypox). Kalau orang Jawa…. BACK to Suluten! hehe.

Awalnya muncul ruam kemerahan di sekitar area ketiak, lalu membentuk bintil berair selebar sekitar 1-2 cm. Terus gak lama printilan itu pecah, dan menyisakan luka lepuh seperti tersulut rokok/api. Besoknya beberapa printilan muncul lagi, dan cairannya cepat sekali pecah, jika tidak ditangani, maka bisa menular ke seluruh tubuh. Alhamdulillaah ‘ala kullihal, it could be worse, suluten Fathan berhenti di area ketiak saja. Anyway, karena bekas pecahan airnya seperti luka tersulut api/terbakar, makanya itu orang Jawa kasih nama suluten, :p sulut+en. Nama cacar api juga mungkin karena bekas pecahnya melepuh seperti kena api. Okay, confirmed :d Sayangnya sebagian masyarakat (khususnya Jawa) masih suka percaya mitos bahwa suluten itu muncul karena ada pakaian bayi yang terbakar, makanya si bayi ikut ngerasain tersulut (suluten). Hehe, 100% MITOS yak!

FAKTAnya, suluten (impetigo) ini terjadi karena infeksi dari bakteri yang masuk lewat celah luka pada kulit., atau karena kontak sentuhan dengan orang yang terserang impetigo duluan (karena memang impetigo ini sangat menular).  Penyebabnya adalah bakteri Staphylococcuc aureus dan Streptococcus. Beberapa jenis impetigo bisa dilihat pada link berikut. Nah, yang diderita Fathan adalah jenis bullous impetigo yang banyak menyerang anak di bawah 2 tahun, tidak bernanah, melainkan bintil berisi cairan saja, dan sepertinya tidak gatal. Secara alami impetigo akan mengering dan sembuh dengan sendirinya, tergantung imun tubuh. Pengobatan tradisional untuk impetigo bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti: kompres air hangat pada area kulit yang terinfeksi, balur dengan ampas bawang putih yang telah dicampur minyak wijen, dengan minyak zaitun plus minyak pohon teh, atau dengan membalurkan daging lidah buaya selama kurang lebih 20 menit. Salep antibiotik juga penting untuk mempercepat penyembuhan luka. Jangan lupa IMUN! ImunIsASI! Gempur ASI!

Syafakallah honey bunch!

13646821_10207232383504209_2025195071_o

Gigi dan Gabag

Sudah dua hari ini Fathan lagi kena demam yang mengiringi dua hal; tumbuh gigi dan gabag (campak).

Ini tumbuh gigi perdana, alias gigi susu loh, Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat. Ahirnya setelah sabar menunggu hingga Fathan 13 bulan, central incisor-nya numbuh menembus gusi. Sakiiiit ya, nak?! It’s okay, tahan sedikit ya, enjoy the fever, insyaAllaah it’ll end tomorrow. Kenapa ya sampai tumbuhnya delay se-lama ini? Sempat khawatir juga, soalnya Gege mulai tumbuh gigi di usia 6 bulan, saat usianya satu tahun bahkan jumlah giginya sudah 8, dan tanpa diiringi demam, masyaAllaah. Setelah browsing, ternyata ada beberapa penyebab lamanya gigi susu tumbuh pada bayi, seperti: faktor genetik, kekurangan kalsium dan vit. D, hipotiroidisme, atau karena kurang gizi.  Menurut dr. Dean Brandon, spesialis gigi anak dari Alabama Pediatric Dental Associates and Orthodontics, Amerika Serikat, salah satu penyebab lamanya gigi susu tumbuh adalah asupan kalsium saat hamil. Saya teringat ketika hamil Fathan, selama trimester pertama kehamilan, saya mengalami sakit gigi sepanjang 4 bulan pertama. Bisa jadi janin Fathan pun mengalami kesulitan dalam penyerapan kalsium. Etapi, belum tentu juga bumil yang mengonsumsi kalsium lebih banyak akan melahirkan bayi dengan pertumbuhan gigi yang lebih cepat. Hal ini dikarenakan daya serap kalsium pada bayi berbeda-beda. Alhamdulilaah, stay strong Fathan for your newly central incisor😀

Selain karena mengiringi proses kemunculan gigi perdana🙂, demam ini juga mengiringi sakit gabag alias Campak/Morbilli/Rubeola/Measles. Alhamdulillaah ‘ala kulli hal. Tetap bersyukur dalam kondisi apapun, ya nak. Beberapa saat yang lalu (H+3 Lebaran), Gege sudah kena campak duluan, tapi Fathan sama sekali gak tertular, padahal mereka berdua nempel terus kayak perangko yang dilaminating, hehe. Sekarang, your turn honey bunch❤ stay strong❤ Those pinky red skin rashes will fade away soon enough🙂 Ruam pink yang bergerombol, cepatlah keluar semua, dan pergilah sana sejauh2-nya. Penanganan-nya insyaAllaah pakai home treatment aja, karena penyebab Campak/Gabag/Morbilli/Rubeola/Measles adalah virus (self-limiting disease/dapat sembuh sendiri), maka kesembuhan sangat tergantung pada daya tahan tubuh, insyaAllaah madu plus gempuran ASI plus MPASI gizi seimbang dan tentu saja atas izin Allaah🙂 “Faidzaa maridhtu fahuwa yasyfiin/ Allaah yang kasih sakit, Allaah juga yang sembuhkan”

Semoga lekas sembuh ya, nak! Ummi kangen cerianya Fathan!🙂

Close T

Saya dibuat kaget oleh foto yang ditunjukkan zaujy kemarin jam 03.00 WSB (waktu sahur bagian barat). Foto yang lagi viral, tentang cafe jamban. Saya spontan mau muntah, merasa sangat jijik. Kok bisa, jamban yang fungsinya untuk istinja’, malah dipakai untuk wadah makanan manusia? Bagaimana mungkin terfikirkan ide konyol macam itu? Bahkan penggagasnya seorang dokter? Heh?

Lalu, snapshot yang menunjukkan beberapa penikmat cafe jamban adalah muslimah (berhijab), maksudnya gimana? Bersertifikasi halal, gitu? Atau memang sengaja dibuat seolah2 muslim suka yang begitu? Aaaaagh, media deception😦

Tampaknya kasus cafe jamban ini episode lain dari rangkaian fitnah thd ummat islam, setelah kasus warteg-nya bu saeni ditutup. La hawla wa laa quwwata illaabillah…

Anyway, ngebahas kata j*mb*n saja sudah cukup bikin kita muntah2, apalagi menggabungkannya dengan makanan yang kita santap. Iiiih. Serendah itukah selera orang2 yang mengaku anti-mainstream? Sedangkan makan menggunakan tangan kiri saja dilarang dalam Islam… Orang2 kita mah memang suka nyeleneh. Demi mencari pasar yang potensial, menghalalkan segala cara. Plus, misi terselubung yang dimainkan para hipokrit zindiq, agar kita semakin jauh dari sunnah.

Mudah2an Allaah selalu memberikan kewarasan pada kita untuk tidak ikut2an mengapresiasi hal2 nyeleneh begitu.